Tetap Berusaha Hidup Kendati Sulit

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Di akhir tahun 1941, suasana perang Pasifik mulai memanas. Tanggal 7 Desember 1941, terjadilah serangan di Pearl Harbor yang meluluhlantakkan seluruh armada utama Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik dan mengakibatkan Konggres Amerika Serikat memutuskan untuk terlibat dalam Perang Dunia II. Selain itu, hancurnya pertahanan laut di Pearl Harbor membuka jalan bagi Jepang untuk masuk ke Asia Tenggara. Tahun 1942, Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia. Situasi menjadi sangat genting, khususnya bagi orang-orang Barat yang berasal dari negara-negara Sekutu. Bulan Februari 1942, para pater di Purwosari mendengar bahwa tidak lama lagi tentara Jepang akan mendarat di Jawa. Mendengar itu, para pater mengambil langkah untuk mengamankan barang-barang yang ada di gereja. Monstrans, sibori, dan bejana-bejana suci lain yang berharga dititipkan kepada keluarga-keluarga untuk disembunyikan. Menjelang Maret 1942, gereja dan pastoran mulai ditinggalkan. Para pater kemudian mengungsi ke rumah salah satu keluarga Belanda, yaitu rumah kedua di sebelah barat perempatan Gendengan. Sejak saat itu, gereja tutup terus dan sama sekali tidak ada pelayanan di gereja. Yang dilakukan hanyalah penerimaan komuni dalam Ekaristi secara teratur dalam rumah keluarga Be;anda tersebut.

Romo Th. Pusposuparto, SJ. dan Br. Timotheus, FIC berjasa membuat umat Purwosari dapat kembali merayakan Ekaristi

Hari Minggu, 1 Maret 1942, tentara Jepang benar-benar mendarat di Pulau Jawa dan mulai masuk ke kota Solo pada hari Selasa, 3 Maret 1942. Tanggal 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborgh Stachauwer menyerah kepada tentara Jepang dan dimulailah pemerintahan tentara pendudukan Jepang. Mulai saat itu, diadakan penangkapan terhadap orang-orang Belanda. Bersamaan dengan itu, terjadilah perampokan besar-besaran di beberapa bagian kota, terutama toko-toko besar dan rumah-rumah orang Belanda. Setelah orang-orangnya ditangkap, barang-barangnya dijarah rayah oleh tentara dan rakyat. Alat-alat rumah tangga, bala pecah, pakaian, lemari es, buku-buku, mesin jahit, sepeda, dan sebagainya sekejap mata hilang lenyap. Dengan demikian timbullah barisan usung-usung yang untuk sementara waktu menyenangkan rakyat[1].

Gereja dan pastoran Purwosari pun tidak luput dari penjarahan. Sekelompok gerombolan memasuki gereja dan pastoran secara paksa serta menguras barang-barangnya sampai habis. Gereja menjadi kosong melompong sampai-sampai kamar-kamar pastoran tampak menganga karena daun pintunya sudah dijarah. Sementara itu, keadaan yang berbeda dialami oleh Gereja Purbayan. Saat ada perampokan besar-besaran, gereja tidak ikut dirampok. Setelah kejadian itu, Pater de Koening dan Pater Pusposuparto (pastor paroki Purbayan) berusaha mencari kembali barang-barang gereja. Mereka  menemukan harmonium gereja yang belum sempat digotong keluar halaman gereja. Mereka kemudian mencari bangku-bangku gereja dan barang-barang lain, tetapi sia-sia. Selang beberapa hari, dalam proses pencarian itu, ditemukanlah sejumlah barang-barang, antara lain: sejumlah pakaian misdinar, beberapa helai pakaian misa, 15 bangku gereja dan tabernakel.

Setelah Jepang memasuki Solo, para pater Belanda yang mengelola Paroki Purwosari tidak langsung diinternir sehingga mereka masih bebas untuk sementara waktu. Pater de Koning masih sempat mengadakan perjalanan ke Semarang. Pater Verlaan dan Pater Rijbroek masih sempat berkali-kali menerimakan sakramen baptis. Setelah perintah militer untuk menginternir orang-orang Belanda datang, mereka dikumpulkan bersama dengan orang-orang Belanda yang lain di gedung Gubernuran (sekarang Gedung Balaikota). Mereka diharuskan menjalani pemeriksaan di beberapa tempat antara lain: kompleks PLN, Purwosari, dan Bruderan. Tindakan Jepang ini juga berimbas pada umat. Pada hari Jumat, 3 April 1942, ketika umat di gereja Purbayan sedang menantikan perayaan Jumat Agung pada pukul 14.00, datanglah perintah dari penguasa militer Jepang untuk menutup gereja. Setelah itu, gereja ditutup terus sampai akhir bulan Mei. Pada tahun itu, tidak ada perayaan Paska (5 April), Kenaikan Tuhan (14 Mei), dan Pentakosta (24 Mei) di kota Solo.

Permulaan bulan Juni 1942, Gereja Purbayan mulai boleh dibuka kembali, tetapi penguasa militer meminta bruderan FIC untuk dijadikan kantor dan pastoran sebagai kamp interniran bagi para pastor, bruder, dan domine Belanda di Solo. Saat itu, 12 orang rohaniwan Belanda – 2 orang pater MSF (Pater Verlaan dan Pater Rijbroek), 2 orang pater Jesuit, 3 orang domine dan 5 orang bruder FIC – hidup di bawah pengawasan ketat 4 orang agen polisi. Dua pater MSF yang mengelola Paroki Purwosari berada di kamp interniran Solo, sedangkan satu orang lainnya, yaitu Pater de Koning, rupanya diinternir di Semarang.

Setelah para rohaniwan berkebangsaan Belanda yang ada di Solo diinternir, tinggallah dua orang rohaniwan pribumi yang ada di Solo, yaitu Romo Th. Pusposuparto, SJ. dan Br. Timotheus, FIC. Kedua orang rohaniwan ini pun harus meninggalkan rumahnya karena pastoran Purbayan dijadikan kamp interniran dan bruderan dijadikan kantor penguasa militer Jepang. Kedua orang itu kemudian pindah ke Pastoran Purwosari yang berada dalam keadaan kosong. Mereka berdua memperbaiki gedung sedapat-dapatnya serta mencari alat-alat rumah tangga dan perabot secukupnya. Mereka juga mencari keperluan untuk Ekaristi di gereja karena umat Purwosari sudah tiga bulan tidak dapat merayakan Ekaristi dan ibadat yang lain. Oleh  jasa mereka berdua, umat Purwosari dapat kembali merayakan Ekaristi.

Sejak itu, ada jadwal khusus Perayaan Ekaristi di kota Solo. Pada hari Minggu, Ekaristi jam 06.00 dan pujian jam 17.00 diadakan di Purbayan; sedangkan Ekaristi jam 08.00 diadakan di Purwosari. Pada hari biasa, misa hanya diadakan pagi hari sebanyak satu kali di Purbayan. Dengan pelayanan semacam itu, Romo Pusposuparto harus menempuh jarak Purwosari-Purbayan paling sedikit dua kali dengan mengendarai sepeda. Sepeda itu membantunya untuk mengajar agama di berbagai tempat dan menjadi kendaraan setianya dalam mengunjungi stasi-stasi. Br. Timotheus pun membantu Romo Pusposuparto. Selain menjadi kepala SD Bruderan (sekarang SD Pangudi Luhur Santo Timoteus), Br. Timotheus membantu memberikan pelajaran agama. Ia selalu aktif memberikan tenaganya di mana ia diperlukan. Selain dua orang itu, datanglah secara sambilan para imam yang membantu pelayanan di Paroki Purwosari yaitu Romo A. Prawirapratama, SJ. dan Romo S. Lengkong, Pr. Bulan Juni 1943, para pastur, domine, dan bruder yang diinternir di Pastoran Purbayan dipindahkan ke Bandung, tetapi pastoran masih dijadikan tempat penyimpanan barang-barang milik orang-orang Belanda yang dirampas oleh tentara Jepang sehingga Romo Pusposuparto masih harus tinggal di Purwosari.

[1] Mr. Soewidji. Kisah Nyata Di Pinggir Jalan Slamet Riyadi Di Surakarta. Semarang: Percetakan Univ. Satya Wacana. 1973. Hal. 49.