Terus Berbenah untuk Mengembangkan Pelayanan

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Memasuki tahun 2000, para romo di Paroki Purwosari mulai memikirkan berbagai macam pembenahan dari dalam, baik pembenahan fisik maupun pembenahan mental. Pembenahan-pembenahan tersebut tidak lepas dari situasi negara dan gereja saat itu. Arus Reformasi tahun 1998 yang membawa angin kebebasan membuat bangsa Indonesia masuk ke dalam era demokrasi yang sesungguhnya. Dalam arus besar itu, Keuskupan Agung Semarang memberikan arahan agar Gereja bersikap secara arif dan bijaksana. Pasca Reformasi tahun 1998 menjadi tahun-tahun penting sebagai kesempatan untuk membarui diri karena masyarakat semakin sadar akan kedaulatannya. Kesadaran tersebut tampak dalam kesadaran akan kekuatan daerah serta potensi warga masyarakat dan alamnya (bdk. UU No. 22 Th 1999 tentang Pemerintahan Daerah). Kesadaran tersebut hanya akan bermakna, bila dikembangkan untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan diri, kelompok atau daerah sendiri. Dengan kesadaran itu hendaknya Gereja sendiri menjadi pelaksana proses perubahan pola hidup secara mendasar untuk membarui masyarakat. Dalam pembauran masyarakat itu, keuskupan mengajak umat untuk terlibat sungguh-sungguh secara nyata dalam pembangunan yang berbasis pada masyarakat daerah kabupaten atau kota, kelurahan, yang berakar pada masyarakat desa.

Tahun 1998, Romo Didaktus Carvalo Prihambodo datang membantu pelayanan di Purwosari menggantikan Romo van der Peet. Selama masa pelayanannya, umat Purwosari dirasakan sebagai komunitas Gereja yang sudah terbentuk sekian lama dengan aneka macam pengalamannya. Dengan demikian, umat sudah sarat dengan pengalaman hidup menggereja. Kebersamaan di beberapa wilayah terjalin dengan kompak dan harmonis. Wilayah-wilayah juga nampak hidup melalui gerak kelompok yang ada. Romo dan pamong wilayah nampaknya memegang peran kunci dalam wilayah atau paroki. Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah perlunya kesadaran untuk memberikan warna tersendiri dalam kehidupan umat secara keseluruhan. Seluruh umat diharapkan mau terlibat dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Tuntutan zaman memunculkan pengaruh yang kuat dalam pemahaman dan penghayatan hidup menggereja. Wajah Gereja yang mandeg akan membawa sedikit pengaruh dalam kehidupan menggereja dan memasyarakat. 

Catatan penting tahun 2000-an: peresmian Panti Paroki Gedung Dwi Dharma oleh Monsinyur Ignatius Suharyo pada tanggal 22 Juni 2002

Memasuki tahun 2000, Paroki Purwosari sangat memerlukan kader-kader awam yang dibekali cukup untuk mendampingi kelompok-kelompok yang berkembang di dalamnya. Banyak umat di Paroki Purwosari yang tentunya rela dipakai untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Mereka yang telah aktif ini perlu disapa dan didukung terutama lewat pembekalan, pembinaan dan penyegaran supaya tidak mengalami kemandegan gagasan dan ide. Para aktivis Gereja tentu akan semakin bersemangat kalau mereka didukung, disapa, dan diperhatikan. Di samping itu, terlihat juga kerinduan untuk menambah pengetahuan mengenai Kitab Suci, liturgi, pengetahuan iman pada umumnya, masalah-masalah keluarga, manajemen organisasional, dll. Semakin disadari bahwa pembekalan dan pembinaan para rasul awam dan kaderisasi mendesak dilaksanakan di Gereja Purwosari. Sejauh diamati, alokasi dana paroki tampaknya masih terfokus pada kegiatan-kegiatan rutin atau pada usaha untuk melengkapi berbagai fasilitas gereja atau pembangunan gedung. Kalau dituntut adanya kader-kader yang bermutu tetapi Gereja tidak mau merencanakan, memikirkan dan membiayai mereka, kiranya ini tidak fair.

Tahun 2001, muncul sebuah ide untuk mengganti dan menambah bangunan di kompleks Gereja. Pembangunan ini dimulai dengan rapat Dewan Paroki pada tanggal 12 Januari 2001. Yang menjadi agenda rapat itu adalah pembentukan kepanitiaan dalam rangka pembangunan Panti Paroki Purwosari. Panti Paroki ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakan sarana prasarana yang representatif untuk acara-acara umat Purwosari. Konsep kepanitiaan sudah dipersiapkan oleh segenap pengurus Dewan Paroki. Melalui perjalanan panjang, Dewan Paroki harus mengurus berbagai hal yang menyangkut rencana pembangunan tersebut. Dewan Paroki kemudian menentukan panitia. Rapat pertama yang dilakukan digunakan untuk menentukan pembagian tugas, tata hubungan kerja, sistem pembangunan, dan sistem pencarian dana. Rapat itu kemudian diteruskan dengan rapat koordinasi yang dilakukan antara seksi usaha-dana  dengan pelaksana pembangunan dan dilaksanakan setiap hari Jumat. Sungguh patut dihargai usaha para pamong wilayah yang setiap hari menggalang dana dengan tabah dan penuh pengorbanan. Dana yang dihimpun dari umat wilayah dikumpulkan, diantarkan, dan dilaporkan setiap bulan ke Sekretariat Panitia  Pembangunan.

Peresmian Pastoran

Setelah beberapa kali rapat, panitia kemudian membuat rencana untuk memulai pembangunan. Rencana semula menetapkan tanggal 8 Mei untuk melaksanakan peletakan batu pertama. Namun, pelaksanaan itu mundur. Panitia lalu menetapkan tanggal 10 Mei untuk memulai pembangunan. Hari itu, diadakanlah upacara pencangkulan pertama oleh Romo Prihambodo. Upacara itu dilakukan dengan sederhana dan diawali upacara liturgi pemberkatan tempat pendirian bangunan. Tamu yang diundang terbatas pada lingkungan paroki. Semangat keprihatinan dan pengharapan akan pembangunan Panti Paroki ini mendasari pembangunan bangunan ini. Hari peletakan batu pertama yang semula direncanakan tanggal 8 Mei, akhirnya mundur menjadi tanggal 15 Mei 2001. Peletakan batu pertama itu dilakukan oleh Bapak Uskup Agung Semarang, Monsinyur Ignatius Suharyo. Upacara itu diawali dengan perayaan Ekaristi yang kemudian dilanjutkan dengan upacara di belakang kantor Sekretariat yang lama. Setelah peletakan batu pertama dilakukan, pembangunan tidak dapat segera dimulai karena para tukang harus merobohkan bangunan bekas aula di sebelah barat agar tempat itu siap dibangun. Pekerjaan itu dapat diselesaikan pada awal bulan Juni sehingga pembangunan dapat dimulai tanggal 10 Juni 2001. Dalam waktu kira-kira setahun, Panti Paroki itu telah dapat diselesaikan. Pada tanggal 22 Juni 2002, diadakanlah peresmian Panti Paroki. Peresmian Panti Paroki dilakukan oleh Monsinyur Ignatius Suharyo. Perayaan itu diawali dengan Misa Agung yang diselingi dengan pemberkatan Panti Paroki. Setelah Misa Agung selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan penandatanganan prasasti yang akan ditempelkan pada pintu masuk Panti Paroki. Setelah pembangunan selesai, Romo Sulis pindah dan digantikan oleh Romo Daniel Tomo Wijoyo.

Pastoran Lama

Masih di tahun 2001, Paroki Purwosari menyambut kedatangan Romo Simon Petrus Sumargo yang menggantikan Romo Prihambodo yang mendapatkan tugas di paroki Sendangguwo. Romo Margo mulai memikirkan bagaimana Gereja Purwosari semakin menjadi Gereja yang misioner dan terbuka. Ia melihat bahwa kadangkala muncul perasaan “takut terlihat kurang” ketika ada kesempatan untuk bekerjasama dengan banyak orang. Ia menyarankan bahwa usaha membangun semangat persekutuan dan paguyuban perlu lebih dibangun. Ide yang dilontarkan adalah pengadaan kegiatan bersama antar wilayah, baik dalam satu paroki maupun dengan paroki lain. Kegiatan ini tidak hanya berlaku bagi rekan-rekan mudika, tetapi juga dalam tingkat wilayah secara keseluruhan. Untuk hubungan dengan agama lain, ia mengusulkan untuk membuka Gereja lebar-lebar. Romo Margo bertugas di Purwosari sampai tahun 2003. Kekosongan yang ditinggalkan Romo Margo kemudian diisi oleh Romo Mateus Sumarno dan Romo Christophorus Ari Pramono.

Tahun 2002, Paroki Purwosari menyambut kedatangan Romo Bernardus Windyatmoko yang banyak dikenal sebagai pembuat kartun dengan nama Romo Koko di Majalah HIDUP. Kehadiran Romo Koko memberi warna lain dalam dinamika umat. Saat itu, pastoran dibuka selebar-lebarnya untuk umat. Setiap orang dapat dengan mudah menemui romo bila ada keperluan tertentu. Selain itu, kaum muda banyak diberi kesempatan untuk mengembangkan ekspresi, terutama dalam bidang seni. Selain itu, Romo Koko yang memiliki latar belakang kuat dalam hal sosial memberi kesempatan kepada umat untuk mengembangkan kepedulian kepada kaum miskin di sekitar gereja, antara lain kepada tukang becak, gelandangan, dan sebagainya. Salah satu kegiatan yang hidup saat itu adalah pendampingan anak pinggiran di Pasar Pring dan Praon. Tahun 2004, Romo Koko pindah tugas dan Romo Marno ditugaskan untuk mengisi jabatan sebagai pejabat sementara pastor kepala sampai tahun 2005. Dalam kurun waktu ini, datanglah Romo Silvester Susianto Budi Nugraha untuk membantu pelayanan di Purwosari meskipun hanya sebentar sampai tahun 2005.

Tahun 2005, Paroki Purwosari mendapatkan Romo Fransiskus Xaverius Gunawan Heru Susanto sebagai pastor kepala. Saat itu, paroki Purwosari memiliki beberapa orang gembala untuk membantu Romo Heru, antara lain Romo Aloysius Endrokarjono dan Romo Agustinus Tri Prabowo Laksono. Kehadiran Romo Heru membuat paroki Purwosari kembali mengalami berbagai perbaikan fisik, mulai dari pengecatan bangunan Gereja sampai pembenahan fasilitas-fasilitas pendukung. Tahun 2008, melihat banyaknya umat yang duduk di luar saat Ekaristi, Romo Heru menggagas pemanfaatan lahan di sebelah timur gereja sebagai tempat duduk tambahan bagi umat yang ingin merayakan Ekaristi. Untuk merealisasikan ide tersebut, bangunan kamar mandi di bagian timur gereja dibongkar. Di lahan itu kemudian dilakukan peninggian lantai serta pemasangan kanopi. Untuk sementara, kebutuhan lahan untuk umat yang ingin merayakan Ekaristi teratasi. Berbagai macam penataan fisik juga dilakukan oleh Romo Heru sehingga lingkungan gereja mulai tertata rapi.

Sebuah peristiwa yang tidak terlupakan terjadi pada tahun 2009. Saat itu, umat Paroki Purwosari berduka karena ditinggalkan selama-lamanya oleh salah satu gembalanya, Romo Endrokarjono. Berita wafatnya terasa begitu mendadak. Romo Endrokarjono wafat di kamar kerjanya pada tanggal 22 Maret 2009. Wafatnya Romo Endro membuat Paroki Purwosari kembali memerlukan tambahan pelayan umat. Tahun 2009, diutuslah Romo Carolus Suharyanto yang sedang menjalani terapi kesehatan untuk memberikan pelayanan di Purwosari. Selain itu, datang kemudian beberapa imam untuk memperkuat pelayanan di Purwosari, yaitu: Romo Aloysius Suharihadi, Romo Antonius Suyata, dan Romo Aloysius Bagus Irawan.

Tahun 2010, Romo Heru kembali menggagas untuk membangun kelengkapan fisik gereja. Yang disasar sekarang adalah pastoran. Gagasan ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, sejak berdirinya gereja, bangunan pastoran didirikan dengan cara tambal sulam. Saat itu, masih nampak adanya bangunan lama dan tambahan bangunan baru, yaitu kamar tamu dan kamar di lantai dua. Para penghuni pastoran menempati kamar yang membujur dari timur – barat. Gentengnya masih menggunakan asbes, dan pemasangan kabel di luar dinding. Kedua, empat kamar  yang membujur dari utara – selatan, tidak dapat digunakan untuk beristirahat karena ada sumber air besar di bawah tanah yang membuat sepanjang dinding kamar tersebut lembab. Dari segi kesehatan, kamar-kamar yang ada tidak layak dihuni. Mengingat situasi seperti itu, Romo Heru merencanakan pembangunan Pastoran dengan membongkar bangunan yang lama. Selanjutnya, dibentuk  Panitia Pembangunan yang diketuai oleh Bapak MG. Budi Sutrisno Prasetya. Panitia Pembangunan Pastoran merencanakan pembenahan fungsi ruang dan pembangunan kamar-kamar. Dewan Paroki dan Panitia Pembangunan Pastoran merencanakan membagi menjadi tiga blok dari segi fungsi, yaitu 1) Aula Dwi Darma dipakai untuk pelayanan Pastoral bagi umat, 2) Ruang Pastoran bagian bawah untuk perkantoran, dan 3) Pastoran ruang atas hanya untuk kamar kebutuhan internal para romo. Namun, belum sampai pembangunan terlaksana, Romo Heru sudah harus pindah dan digantikan oleh Romo Nikolaus Antosaputro. Saat itu, semua romo yang bertugas bersama dengan Romo Heru di Paroki Purwosari berpindah mengemban tugas baru. Selanjutnya, Romo Niko dibantu oleh Romo Ignatius Supriyatno dan Romo Lukas Darsono.

Perkembangan pastoran gereja Purwosari

Meskipun berganti gembala, ide pembangunan pastoral terus bergulir. Bangunan pastoran lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan dua lantai yang baru. Lantai bawah ditinggikan untuk mengantisipasi banjir karena sebelumnya lantai pastoran berada lebih rendah dari jalan raya di sekitar kompleks Gereja.  Kamar para romo berada di lantai dua membujur dari timur ke barat, sedangkan ruang kerja para romo ditempatkan di lantai satu. Pembagian ini diharapkan membuat para romo memiliki tempat kerja dan istirahat yang lebih sehat, nyaman, lebih privat, serta tidak terganggu oleh kegiatan-kegiatan umat. Pembangunan ruang pastoran juga menambah tempat kegiatan umat. Ditinjau dari pelayanan pastoral, umat masih membutuhkan ruang untuk kegiatan: ruang kerja romo untuk konsultasi atau penyelidikan kanonik, ruang bendahara, arsip, dan gudang barang-barang inventaris. Kamar sederhana di belakang gereja yang menjadi tempat transit koster dibongkar sehingga lahan parkir menjadi lebih luas. Setelah kurang lebih dibangun selama setahun, gedung Pastoran Purwosari diberkati dan diresmikan pada tanggal 24 November 2011 oleh Monsinyur Johanes Pujasumarta, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Sejak saat itu, gedung pastoran mulai ditempati kembali, termasuk untuk kegiatan-kegiatan paroki yang memerlukan ruang rapat yang memadai. Tahun 2011, Romo Lukas mendapat tugas baru untuk menyiapkan berdirinya paroki baru di Salatiga dan tugasnya di Paroki Purwosari digantikan oleh Romo Johanes Baptista Ibnu Fajar Muhammad.

Tidak berselang lama, pembangunan juga kembali dilaksanakan pada tahun 2013. Semakin lama semakin terasa bahwa bangunan gereja kurang representatif dalam menghadapi iklim yang terus berubah. Meskipun telah ada 6 pasang jendela besar di bagian atas bangunan, lambat laun ruang di dalam gereja terasa panas. Selain panas, keramaian juga semakin terasa dengan car free day setiap minggu pagi pada waktu jam ibadat. Belum lagi letak bangunan gereja di perempatan jalan juga semakin menambah ketidaknyamanan dalam beribadat sebab bunyi klakson mobil, kereta api, atau suara riuh rendah suporter sepak bola yang seolah-olah sengaja membunyikan suara lebih keras dan riuh jika melewati gereja. Selain itu, terpikir pula untuk menyediakan sarana devosi bagi umat karena Gua Maria di Purwosari mengalami pembongkaran akibat pembangunan pastoran. Hal-hal ini memicu berbagai gagasan perubahan agar kenyamanan, ketenangan, serta keteduhan dalam berdoa dapat kembali terasakan. Mempertimbangkan berbagai semua itu, untuk menciptakan suasana nyaman dalam gedung gereja, muncullah gagasan dari Romo Fajar dan Dewan Paroki untuk menutup semua jendela dan sebagian pintu serta memasang air conditioner untuk membantu sirkulasi udara. Selain itu, untuk menyediakan sarana devosi bagi umat, terbersitlah ide membangun tempat doa yang memadai bagi umat untuk menimba kekuatan batin dengan perantaraan Bunda Maria. Panitia Pembangunan Taman Maria dan Pengadaan Air Conditioner Gereja bersama umat Paroki Santo Petrus Purwosari pun bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita bersama mendirikan Taman Maria dan pengadaan air conditioner. Akhirnya, terlaksanalah pembangunan Taman Doa Maria Bunda Penolong Abadi yang diresmikan tanggal 7 Oktober 2013 dan pemasangan AC pada bulan Maret 2014.

Setelah gedung gereja dilengkapi dengan sistem penyejuk ruangan, giliran penambahan ruangan dilakukan. Saat itu, kanopi yang dibangun pada tahun 2008 di sebelah timur bangunan gereja mulai rusak dan keropos. Kanopi yang diberi lantai semen dan diberi atap fiberglass itu seiring berjalannya waktu juga terasa tidak nyaman bila dipakai untuk kegiatan umat. Selain suhu ruangan yang panas, atap kanopi tersebut tidak dapat menampung air hujan dalam jumlah yang banyak bila terjadi hujan lebat sehingga bocor di sana-sini. Atas pertimbangan itu, setelah pembangunan pemasangan air conditioner selesai, pada bulan Desember 2014, kanopi tersebut dibongkar dan diganti dengan bangunan yang permanen. Saat ini, bangunan tersebut terasa lebih nyaman dan lebih bermanfaat untuk mengakomodasi banyaknya kegiatan umat.