Suatu hari di tahun 1936

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Perjalanan sejarah Gereja Purwosari dimulai pada tanggal 3 Oktober 1936. Di hari peringatan 2 tahun tahbisan yang diterimanya sebagai pemangku jabatan episkopal di wilayah Vikariat Batavia, Monsinyur Willekens menulis sebuah surat terbuka kepada seluruh pembaca Majalah Claverbond. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut[1]:

Batavia, 3 Oktober 1936

Kepada para pembaca majalah St. Claverbond,

                Dalam surat saya yang tertanggal 25 Februari yang lalu, saya telah menceritakan apa yang telah saya lakukan dengan bagian pertama dari enam ribu gulden yang telah diusahakan oleh majalah St. Claverbond. Saya bermaksud memakai uang itu untuk merenovasi gereja di Kampung Sawah yang hampir roboh. Sekarang, renovasi sedang dikerjakan oleh Pastor Cremers, O.F.M. yang menjalankan tugas misinya di Kampung Sawah. Saya berharap agar dapat mengirimkan beberapa foto gereja yang sudah selesai dalam waktu singkat kepada majalah St. Claverbond.

                Kemudian, saya ingin mengungkapkan apa yang akan saya lakukan dengan bagian kedua dari sumbangan enam ribu gulden tadi. Saya bermaksud membangun sebuah gereja dengan nama pelindung sama seperti yang saya miliki yaitu St. Petrus.

                Daerah yang saya maksudkan adalah Surakarta atau Solo, ibukota keraton Soeseohoenan dan Mangkoenegaran. Nama-nama tersebut adalah nama kedua raja yang secara bersama-sama menguasai bagian hulu Sungai Bengawan Solo.

                Solo adalah kota yang berpenduduk 165.000 jiwa dengan rel kereta api dan jalan raya yang menghubungkannya dengan seluruh daerah di sekitarnya. Dilihat dari segi karya misi, kami masih berada pada tahap awal dan wilayah ini hampir seluruhnya belum tergarap. Sampai tahun 1918, seluruh karya misi dan reksa pastoral untuk seluruh kota Solo hanya dilaksanakan dengan cara “missie-reizen” yaitu lawatan misi atau kunjungan berkala oleh seorang misionaris; hanya pada minggu keempat setiap bulan, ada seorang pastor yang datang ke Solo untuk merayakan misa kudus bagi umat di sana. Bertahun-tahun lamanya, karya misi menyewa salah satu gedung milik kelompok Protestan. Pada tahun 1907, karya misi dapat membuka gedung gereja sementara untuk umat Katolik. Baru pada tahun 1918, ada seorang pastor yang ditugaskan dan tinggal di Solo. Pastor pertama itu adalah Pastor Stiphout, S.J. yang telah bertahun-tahun melayani umat dengan kunjungan “missie-reizen”.

                Dan sekarang, lihatlah para pembaca yang budiman, betapa kuat daya hidup benih iman Katolik!

                Pada tahun 1922, jumlah orang Katolik yang tinggal di dalam kota ada 1224 orang; dari stasi di kota Solo ada juga kota-kota kecil yang dikunjungi, di Boyolali di bagian barat ada 58 orang Katolik, Sragen di bagian Timur ada 41 orang, dan Wonogiri di bagian selatan ada 6 orang.

                Enam tahun kemudian, pada tahun 1928, di Solo sudah ada 2660 orang Katolik, di Boyolali ada 132 orang, di Sragen ada 275 orang, dan di Wonogiri ada 30 orang. Pada tahun yang sama, telah diselesaikan juga kompleks sekolah-sekolah untuk anak-anak pribumi. Ada juga sekolah untuk anak-anak keturunan Eropa, untuk anak-anak pribumi dengan bahasa Belanda, dan 9 sekolah standar dengan bahasa pengantar bahasa Jawa. Sekolah-sekolah itu diselenggarakan oleh para bruder dan suster. Sekolah anak-anak perempuan diselenggarakan oleh para suster Fransiskanes dari Heythuysen dan karya amal St. Melania.

                Jumlah umat Katolik perlahan-lahan terus menanjak. Memang hanya perlahan-lahan! Itulah yang biasa terjadi di tanah misi. Kalau stasi misi sudah mencapai perkembangan tertentu, jumlah katekumen yang akan dibabtis biasanya akan berkurang. Hal itu antara lain disebabkan karena keterbatasan tenaga misionaris. Kalau misionaris itu berhasil membabtis sejumlah orang menjadi Katolik, reksa pastoral bagi umat itu akan menyerap tenaganya untuk pelayanan sakramen-sakramen.

                Seorang veteran yang telah banyak berkecimpung di lapangan misi pernah menjelaskan gejala itu kepada saya sebagai berikut: setiap misionaris yang telah mempertobatkan sekitar 3000 orang akan memberhentikan diri sebagai seorang misionaris karena dia menjadi pastor paroki.

                Walaupun begitu,  para pastor misionaris di Solo tidak pernah mau berhenti karena keberhasilan karya mereka. Yang terjadi malah sebaliknya: di samping karya misi yang intensif – yaitu reksa pastoral intern untuk umat Katolik yang ada di kota dan pembinaan iman Katolik bagi mereka yang baru saja menjadi Katolik -, para misionaris terus menerus mengusahakan misi ekstensif. Hal ini juga berhasil baik. Di seluruh wilayah dan pelosok kota Solo telah diusahakan hubungan baik dengan penduduk setempat. Jerih payah mereka telah menghasilkan 42 sekolah misi yang tersebar di seluruh wilayah itu!

                Dengan demikian, sudah tercapailah batas kemampuan pelayanan yang dapat diselenggarakan oleh sebuah paroki. Maka perlulah sekarang untuk memulai membuka stasi baru. Sungguh sangat mendesak keberadaan kelompok baru yang membuka stasi baru itu. Ladang misi perlu dibagikan, diatur kembali untuk memperluas Gereja di atas dasar-dasar yang telah diletakkan di mana-mana.

                Silakan para pembaca yang budiman membaca karangan yang berjudul “Perspektif di Solo” yang ditulis oleh Pastor Schots, S.J. dengan sangat menarik dalam majalah ini (hal. 152 dan 179). Anda akan merasa kagum atas hasil kerja para misionaris yang gemilang, tetapi anda juga akan memahami bahwa wilayah seluas itu tidak mungkin dilayani oleh sebuah stasi misi saja.

                Silakan anda melihat sketsa denah wilayah misi di Solo yang terlampir. Perhatikanlah luasnya! Hanya ada satu gereja yang melayani wilayah yang luasnya separuh negeri Belanda dengan jumlah penduduk satu juta enam ratus ribu orang.

                Mungkin di antara pembaca yang budiman ada yang merasa heran karena dalam surat saya terdahulu pada tanggal 25 Februari 1936, saya mengatakan bahwa saya meminta sumbangan untuk dua gereja kecil (kapel) sesuai dengan rencana semula. Mengapa saya berbicara mengenai pembangunan Gereja di kota Solo, kota terbesar di daerah Kasunanan padahal saya hanya menyebut gereja desa yang kedua.

                Bersama dengan ini, dengan terus terang dan jujur, saya mengaku bahwa saya terpaksa menyerah pada keadaan yang mendesak sewaktu saya melihat ada kesempatan yang sangat bagus di wilayah dan kota Solo. Namun, saya merasa tidak terlalu bersalah karena sejak awal kita telah menyepakati jumlah tertentu yang akan digunakan untuk gereja St. Petrus itu. Separuh sumbangan dipakai untuk renovasi di Kampung Sawah. Kalau sisanya kemudian dapat saya gunakan untuk pembangunan di Solo, saya akan merasa sangat puas. Dengan demikian akan terlaksanalah karya indah demi kemuliaan Allah.

                            X P. WILLEKENS, S.J.

                        Vikaris Apostolik Batavia

Perkembangan umat yang begitu pesat dirasakan menjadi beban berat bagi para pastor yang berkarya di Solo. Saat itu, baru ada satu gereja yang melayani umat di wilayah Solo, yaitu Gereja Santo Antonius Purbayan. Gereja itu menjadi amat kecil untuk menampung jumlah umat yang terus bertambah. Menjelang tahun 1940-an, bangunan gereja seringkali tidak lagi muat menampung jumlah umat yang ingin mengikuti Ekaristi Mingguan, meski Ekaristi telah diadakan sebanyak 4 kali: pukul 05.30, 06.45, 08.00, dan 09.45. Belum lagi kalau Natal dan Paska tiba. Bahkan, bangsal olahraga SMP Kanisius I sempat diubah menjadi kapel darurat karena umat yang datang tidak hanya dari dalam kota, tetapi juga dari luar kota. Situasi ini menggerakkan hati Monsinyur Willekens untuk mendirikan gereja dan paroki kedua untuk umat di Solo. Setelah pembiayaan yang didapatkan tahun 1936, masih sempat mengalir sumbangan dari pembaca majalah Claverbond. Dalam edisi bulan Januari 1937, tercatat demikian:

Voor de St. Petrus-kerk van Z.H. Exc. Mgr. Willekens te Solo.
Den Haag : L.J. f 25.00 – Reusel : door bem v. N.N. f 15.00 – Voorburg : G.K. f 1.50.

 Dalam edisi bulan Februari 1937, masih sempat tercatat demikian:

Voor het St. Petruskerkje van Z.H. Excellentie Mgr. P. Willekens.
…… : N.N. f 1000.00 – Reusel : A.W. f 25.00

[1] “Open Brief van Z.H. Mgr. P. Willekens, S.J.”. St. Claverbond. 1936. Hal. 273-277. Diterjemahkan oleh Henricus van Voorst tot Voorst, SJ.