Perkembangan Pengelolaan Wilayah Administratif

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Sejalan dengan perkembangannya sebagai paroki mandiri, Paroki Purwosari mulai menata wilayah administratifnya. Sejak tahun 1960-an, wilayah Paroki Purwosari meliputi kecamatan Laweyan dan setengah kecamatan Banjarsari (wilayah Kota Surakarta) dan wilayah kecamatan Grogol (wilayah kabupaten Sukoharjo). Jika seluruh wilayah itu ditotal secara kasar, wilayah pelayanan paroki Purwosari adalah 1/3 wilayah kota Surakarta. Besarnya wilayah ini tentu menimbulkan kurang eratnya persaudaraan antar warga.

Dulu, ketika umat baru sedikit dan setiap Minggu hanya diadakan misa sekali, seluruh umat mempunyai kesempatan untuk bertemu. Saat itu persaudaraan sungguh terasa. Setelah umat bertambah banyak, Ekaristi diadakan 5 kali sehingga umat belum tentu bertemu satu sama lain. Orang-orang Katolik yang tinggal se-RK atau RT hampir-hampir tidak mempunyai kesempatan untuk merayakan Ekaristi dalam waktu yang sama. Untuk menyikapi situasi tersebut, hal yang ditempuh kemudian adalah membagi wilayah paroki menjadi wilayah yang lebih kecil. Bagian yang lebih kecil itu disebut wilayah atau kring. Mulai 1988, penyebutan bagian paroki yang lebih kecil itu disebut lingkungan (untuk mengikuti gerak Keuskupan Agung Semarang).

Gagasan pembentukan wilayah mulai diusulkan dalam rapat Dewan Paroki tanggal 30 Juni 1962 yang dipimpin oleh Romo de Koning. Rapat itu kemudian memutuskan pembagian paroki menjadi 12 wilayah. Pembagian itu didasarkan pada batas-batas yang praktis seperti jalan raya, jalan kereta api, sungai, kompleks perumahan, dan sebagainya. Adapun pembagiannya adalah:

Wilayah I       : Tipes, Panularan, Tangsi Polisi dan RS Kadipolo yang dipamongi oleh Bp. FX.  Suparman.

Wilayah II     : Penumping, Baron, Begalon, Gambiran, dan Sriwedari yang dipamongi oleh Bp.  W.J. Soeripto

Wilayah III   : Kalitan, Mangkubumen Kulon dan RSU Pusat Mangkubumen yang dipamongi oleh  Bp. H.S. Pudjosumarto

Wilayah IV    : Priyobadan, Purwonegaran, dan Mangkubumen Wetan yang dipamongi oleh Bp.  F.A. Kusumosubowo

Wilayah V     : Turisari dan Pasar Nongko yang dipamongi oleh Bp. I.S. Widyaparmaka

Wilayah VI   : Tempelrejo, Madyotaman, Petetan, dan Tumenggungan yang dipamongi Bp. J.K.  Martosubroto

Wilayah VII  : Sambeng, Munggung, dan Purworejo yang dipamongi oleh Bp. D. Hardjosutrisno

Wilayah VIII : Joho, Asrama BRIMOB, Asrama Kompi Bantuan, CPM, dan Gremet yang  dipamongi oleh Bp. F.S. Wignjowardojo

Wilayah IX    : Gondang, Tirtoyoso, Sumber, dan Nusukan yang dipamongi oleh Bp. Mardjono

Wilayah X      : Mangkuyudan, Yosoroto, dan Badran yang dipamongi oleh Ibu A.S. Wahjosudibyo

Wilayah XI    : Ngendro, Karangasem, Jajar, Kerten, dan kompleks Biara Ursulin yang dipamongi  oleh Bp. MM. Tjitroaditenojo

Wilayah XII  : Pajang sekitarnya dan Laweyan yang dipamongi oleh Bp. I. Massimun

Pembagian wilayah-wilayah ini dimaksudkan agar umat yang disatukan oleh iman secara nyata dapat menampakkan kesatuan dan semangat Kristiani di tengah saudara-saudaranya yang tidak beragama Katolik. Kondisi jumlah umat yang tidak terlalu besar, berada di daerah yang terbatas dan tidak terpisah jauh satu sama lain diharapkan memudahkan kontak pribadi secara langsung. Kegiatan rohani yang biasanya dilakukan umat adalah sembahyangan wilayah. Bagi para ibu, ada acara arisan yang diadakan secara rutin. Sembahyangan dan arisan merupakan langkah pertama yang dilakukan umat untuk saling mengenal sesama warga wilayah. Keakraban yang nampak dalam umat separoki pada awal pendirian gereja tampak dalam keakraban umat sewilayah.

Pada tanggal 28 April 1963, atas pertimbangan praktis-administratif, dalam rapat Dewan Paroki, diusulkanlah pembagian wilayah berdasarkan batas-batas kelurahan. Namun, gagasan tersebut baru terwujud pada bulan Juli 1966, ketika Romo C. Jacobs menjadi pastor kepala dengan membentuk 7 wilayah koordinasi. Ketujuh wilayah itu adalah:

Koordinasi I      : Pajang, Sondakan, dan Laweyan

Koordinasi II    : Banaran, Cemani, dan Bumi

Koordinasi III  : Tipes, Panularan, dan Sriwedari

Koordinasi IV  : Karangasem, Jajar, dan Kerten

Koordinasi V    : Banyuanyar, Sumber, dan Manahan

Koordinasi VI   : Mangkubumen-Gilingan dan Punggawan-Timuran

Koordinasi VII : Purwosari dan Penumping

Pada bulan September 1969, Banyuanyar menjadi rukun dari Sumber sedangkan Munggung lepas dari Mangkubumen dan masuk wilayah Gilingan. Selain ketujuh wilayah koordinasi itu, Paroki Purwosari juga masih memiliki stasi Kartasura.

Pembinaan umat di Paroki Purwosari mulai tahun 1972 bertambah maju dengan diadakannya Misa Wilayah. Misa Wilayah dirasakan benar-benar menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan segenap umat wilayah

Perkembangan umat di Kartasura dimulai sejak tahun 1950-an. Saat itu, beberapa tokoh dari Kartasura memohon kepada pastor yang berkarya di Purwosari untuk memberikan pelajaran agama di Kampung Pucangan. Saat itu, wilayah Kartasura meliputi Singopuran, Ngabeyan, Gembongan, Makamhaji, Pabelan, Gumpang, Gebyok, Mayang, Sawit, Banyudono, Colomadu, Kompleks AURI, Kompleks RPKAD dan sekitarnya. Perkembangan umat yang semakin banyak ini menuntut sebuah kepengurusan. Kemudian, pada tanggal 16 Juni 1968, dibentuklah Dewan Stasi. Dewan Stasi Kartasura inilah yang kemudian berjasa besar untuk membuat Kartasura menjadi paroki mandiri sejak tahun 1971. Setelah resmi berdiri, Paroki Kartasura dipercayakan kepada Romo Huneker.

Setelah melepas Kartasura menjadi paroki mandiri, pembinaan umat di Paroki Purwosari mulai tahun 1972 bertambah maju dengan diadakannya Misa Wilayah. Setiap wilayah mendapat giliran Misa sebulan sekali. Selang waktu ini kemudian diubah menjadi 35 hari. Misa Wilayah ini dirasakan benar-benar menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan segenap umat wilayah. Bulan Juli 1972, muncul rencana untuk mengadakan cacah jiwa umat tiap-tiap wilayah. Demi praktisnya – sehubungan dengan alamat atau tempat tinggal, batas-batas wilayah disamakan dengan batas-batas kelurahan. Mudahnya begini: satu kelurahan sama dengan satu wilayah. Kelurahan yang penduduk Katoliknya sedikit digabungkan dengan kelurahan lain yang serupa. Kelurahan yang dibuat demikian itu adalah: Bumi – Laweyan – Sondakan; Jajar – Karangasem – Pajang Utara; dan Cemani – Banaran. Perkembangan selanjutnya, Misa Wilayah dijadikan sebagai pembentukan struktur hidup gerejani umat paroki yang mempunyai segi sosial dan kemasyarakatan dengan dimasukkannya persiapan babtis tahap I dan II. Upacara tahap I dan II ini diusahakan untuk mengundang ketua RT, RW, dan lurah agar secara instansial, mereka menyaksikan upacara resmi seorang warga masyarakat masuk ke agama Katolik.

Setelah gagasan satu wilayah sama dengan satu kelurahan dilaksanakan, terbentuklah 15 wilayah yang dikelompokkan menjadi 4 komisariat:

  1. Komisariat Utara Barat / Barat Laut, yang meliputi: Sumber, Manahan, Kerten, dan Purwosari.
  2. Komisariat Utara Timur / Timur Laut, yang meliputi: Munggung, Mangkubumen, dan Punggawan.
  3. Komisariat Selatan Timur / Tenggara, yang meliputi: Sriwedari, Panularan, Penumping, dan Tipes.
  4. Komisariat Selatan Barat / Barat Daya, yang meliputi: Cemani Banaran, Pajang Selatan, Sondakan – Laweyan – Bumi, dan Jajar – Karangasem – Pajang Utara.

Selanjutnya, pembinaan umat wilayah menjadi lebih lengkap dengan dibentuk kelompok-kelompok pendalaman Alkitab, pembinaan pasutri dan Marriage Encounter. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan adanya Griyan Baru sebagai wilayah tersendiri. Saat itu, wilayah berjumlah 16 dengan pamong sebagai berikut:

  1. Tipes : Bp. FA. J. Basri  Lumakso
  2. Panularan : Bp. AM. Soenarno
  3. Sriwedari : Bp. M. Soegiyadi
  4. Penumping : Bp. Alb. Tjokrowiyono
  5. Punggawan : Bp. AJ. Soeripto
  6. Mangkubumen : Bp. Tim Soedarsono
  7. Munggung : Bp. HJ. Kamisho
  8. Sumber : Bp. BDJ. Kundjono
  9. Kerten : Bp. W. Wagiman
  10. Manahan : Bp. Ign. Soehardi Mardjoni
  11. Purwosari : Bp. F. Soebardi
  12. Sondakan : Bp. J.G. Djajadi
  13. Pajang Selatan : Bp. R.G. Widodo
  14. Cemani : Bp. H. Sriyoko
  15. Kleca : Bp. J. Soekirman
  16. Griyan Baru : Bp. H. Rochiem

Di samping perkembangan wilayah-wilayah itu, Romo Suryaprawata juga membuat gerakan “Kebangkitan Umat”. Gerakan ini dimulai dengan retret wilayah dari tanggal 7 Desember 1977 sampai 19 Oktober 1979. Gerakan ini membuahkan hasil melalui peran serta aktif warga Katolik dalam masyarakat. Orang-orang itu tidak segan-segan aktif dalam kampung atau kegiatan kemasyarakatan.

Tahun 1985, Paroki Kleca resmi berdiri. Pemisahan paroki Kleca dari Purwosari bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Sejak awal 1980, Romo Bratasantosa yang menjadi pastor pembantu di Purwosari juga menjabat pastor kepala di Kleca. Jabatan ganda ini mulai diambil alih oleh Romo Widagdo. Saat itu, ia belum menetap di Kleca karena fasilitas di sana belum lengkap. Pada tanggal 9 September 1985, Paroki Kleca secara resmi lepas dari Purwosari. Romo Widagdo meninggalkan Purwosari dan menjadi pastor pertama di Kleca. Konsekuensi dari berdirinya paroki baru ini adalah wilayah administratif Paroki Purwosari yang menjadi lebih kecil. Yang menjadi daerah Paroki Kleca adalah Sumber, Kerten, Sondakan, Pajang Selatan, Kleca (yang meliputi Pajang Utara, Karangasem, dan Jajar), dan Griyan Baru. Sejak itu, Purwosari hanya meliputi 4 kelurahan di kecamatan Banjarsari, 6 kelurahan di kecamatan Laweyan, 1 kelurahan di kecamatan Serengan, dan 2 kelurahan di kecamatan Grogol. Ketiga belas kelurahan itu dibagi menjadi 11 wilayah, yaitu:

  1. Bumi Laweyan
  2. Cemani Banaran
  3. Manahan
  4. Mangkubumen
  5. Munggung
  6. Panularan
  7. Penumping
  8. Punggawan
  9. Purwosari
  10. Sriwedari
  11. Tipes

Tanggal 1 Juni 1985, wilayah Manahan dipecah menjadi Manahan Selatan dan Manahan Utara. Sampai sekarang, paroki Purwosari mempunyai 12 wilayah. Wilayah administratif Paroki Purwosari relatif tidak banyak berkembang karena wilayah tersebut sudah berbatasan langsung dengan wilayah paroki lain, antara lain dengan Paroki Santo Antonius Purbayan di bagian timur, Paroki San Inigo Dirjodipuran di bagian tenggara dan selatan, Paroki Santo Paulus Kleca di bagian barat, serta Paroki Santa Maria Regina Purbowardayan di bagian utara dan timur laut. Jumlah wilayah tetap 12 tetapi dimekarkan dalam lingkungan-lingkungan sehingga umat memiliki wadah yang lebih terjangkau untuk melaksanakan berbagai kegiatan.

Wilayah Nama Pamong
Tahun 1990-an Tahun 2000-an
Bumi Laweyan R. Sediyono P.Y. Suroso
Cemani Banaran HJ. Sriyoko Y.Y. Sulistiyo
Manahan Selatan IG. Suhardjo FX. Soeripto
Manahan Utara A. Martono Ag. Tugiman
Mangkubumen IS. Widyaparmaka FX. Harsana
Munggung AK. Harto Wiryono R. Saptono
Panularan EY. Supadi P.C. Utoko
Penumping H. Soedjaslan Ign. Wahyudi
Punggawan CH. Sabharie PA F. Handoyo
Purwosari G. Diyono A. Untung Sutardjo
Sriwedari YA. Slamet Wiyono Mt. Bambang Mursito
Tipes P. Hartono Sudiro A. Margono

Pengembangan pengelolaan umat melalui lingkungan merupakan usaha Paroki Purwosari untuk menyesuaikan diri dengan gerak Keuskupan Agung Semarang. Tahun 2004, Keuskupan Agung Semarang mengeluarkan Pedoman Dasar Dewan Paroki yang mencanangkan cita-cita untuk semakin menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Dalam pedoman tersebut dinyatakan bahwa umat dikelompokkan dalam lingkungan, wilayah, stasi, kelompok kategorial, koordinasi kategorial, paroki, paroki katedral, kevikepan, dan keuskupan. Di sana dinyatakan bahwa lingkungan menjadi tempat hidup umat beriman yang paling kecil. Oleh karena itu seluruh kegiatan umat beriman dilaksanakan menurut lingkungannya masing-masing. Sejalan dengan itu, sejak tanggal 3 Desember 2006, Paroki Purwosari dibagi menjadi 12 wilayah dan 51 lingkungan yang kemudian sejak 2012 dimekarkan menjadi 12 wilayah dan 53 lingkungan.

Wilayah Lingkungan
Sejak 2006 Sejak 2012
Bumi Laweyan

Stefanus

Bumi

Laweyan Barat

Laweyan Timur

Robertus Bellarmino Bumi

Fransiskus Asisi Laweyan Barat

Titus Laweyan Timur

Cemani Banaran

Yusuf

Banaran

Barusama

Jati

Ngronggah

Ngruki

Talang Gambiran

Turi Cemani

Maria Magdalena Banaran

Agustinus Barusama

Nicolaus Jati

Yoseph Ngronggah

Maria Ngruki

Maria Bunda Allah Talang Gambiran

Paulus Turi Cemani

Manahan Selatan

Yohanes

Aspol Manahan

Gremet Selatan

Gremet Tengah

Gremet Timur

Mikhael Aspol Manahan

Katarina Gremet Selatan

Antonius Gremet Tengah

Agustinus Gremet Timur

Manahan Utara

Matius

Depok

Gondang Barat

Gondang Tengah

Gondang Timur

Tirtoyoso

Mikhael Depok Gondang Barat

Maria Gondang Tengah

Stefanus Gondang Timur

Yosef Tirtoyoso

Mangkubumen

Yakobus

Mangkubumen Barat

Mangkubumen Timur

Purworejo

Sambeng Sidorejo

Turisari Selatan

Turisari Utara

Fransiskus Mangkubumen Barat

Lukas Mangkubumen Timur

Yusup Purworejo

Matheus Sambeng Sidorejo

Paulus Turisari Selatan

Yohanes Turisari Utara

Munggung

Yohanes Capistrano

Munggung Selatan

Munggung Timur

Munggung Utara

Petrus Munggung Selatan

Benedictus Munggung Timur

Pius V Munggung Utara

Panularan

Paulus

Baron Barakan

Baron Gede

Begalon

Cakraningratan

Haryo Panular

Yakobus Baron Barakan

Matius Baron Gede

Markus Begalon

Lukas Cakraningratan

Yohanes Haryo Panular

Penumping

Yohanes

Kalitan

Penumping Selatan

Penumping Tengah

Faustina Kalitan

Maria Penumping Selatan

Yusup Penumping Tengah

Punggawan Anastasia Bromantakan

Madyotaman

Petetan

Punggawan Timuran

Yoana Bromantakan

Agustinus Madyotaman

Theresia Kanak-kanak Yesus Petetan

Albertus Punggawan Timuran

Purwosari

Matius

Purwosari Selatan

Purwosari Tengah

Purwosari Utara

Yohanes Evangelista Purwosari Selatan

Thomas Rasul Purwosari Tengah

Marcus Purwosari Utara

Sriwedari

Yohanes

Kebonan

Priyobadan

Purwonegaran

Teposanan

Benedictus Kebonan

IgnatiusPriyobadan

Elisabet Purwonegaran

Valentinus Teposanan

Tipes

Yohanes Don Bosco

Nirbitan Sutogunan

Pringgolayan

Puspan Citropuran

Tipes Barat

Yulius Tipes Utara

Fransiskuc Xaverius Tipes Timur

Theresia Tipes Selatan

Paulus Tipes Tengah

Maria Tipes Barat Selatan

Fransiskus Asisi Tipes Barat Tengah

Rosalia Tipes Barat Utara

Pastoral berbasis lingkungan sebagai tempat aktivitas umat paling kecil mulai dicanangkan.  Tidak mudah memang mengubah pola pikir dari kekerabatan antar wilayah menjadi kekerabatan antar lingkungan. Namun, pola pengelolaan berbasis lingkungan memiliki peran penting untuk semakin menghidupkan aktivitas umat. Habitus baru yang saat itu dicanangkan terasa sangat cocok dengan situasi umat. Umat perlu menghayati sebuah habitus baru dalam kegiatan hariannya, dari hubungan antar umat dalam satu wilayah menjadi hubungan antar umat dalam satu lingkungan. Bahkan, sampai sekarang pun, aktivitas di lingkungan masih perlu ditingkatkan. Memang Gereja harus terus memperbarui diri.