Mulai Bekerja di Ladang yang Baru

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Gedung Gereja Purwosari telah berdiri sejak tahun 1940, namun tata administratifnya baru dipisahkan dari Paroki Purbayan pada tanggal 29 Juni 1942. Saat itu, Paroki Santo Petrus Purwosari resmi berdiri secara mandiri dan terpisah dari paroki induknya. Para gembala pertama yang dipercaya memimpin paroki baru ini adalah Pater N. Havenman sebagai pastor kepala, Pater Chr. Hendriks dan Pater F. Iven sebagai pastor pembantu. Pater Elfrink yang mempersiapkan serta mengawasi pembangunan gereja dan pastoran telah dipindah untuk membuka sekolah MULO di Kudus.

Sebelum pembangunan gereja Purwosari, telah diadakan pembicaraan antara Monsinyur Willekens dan Pater Elfrink. Salah satu topik pembicaraan itu adalah pembagian wilayah antara Paroki Purbayan dan Purwosari. Daerah yang secara administratif masuk Paroki Purwosari adalah daerah kota yang sekarang terletak di sebelah barat Jl. Honggowongso dan Jl. Gajahmada. Pembatasan diteruskan ke utara sampai Kali Pepe di Srambatan, Tirtonadi sampai ke Komplang. Pembatasan itu bergerak ke selatan sampai Tipes. Stasi yang masih menjadi bagian Paroki Purwosari meliputi Mancasan, Kartasura, Gemolong, Simo, dan Boyolali. Paroki Purwosari juga mendapatkan tugas untuk memberikan pelayanan pastoral untuk beberapa sekolah, yaitu SD Bromantakan yang dikelola Yayasan Melania, serta SD Tipes, SD Mangkubumen, SD Madyotaman, dan SD Sidorejo yang dikelola oleh Yayasan Kanisius.

Para gembala pertama yang dipercaya memimpin paroki baru adalah Pater H. Havenman, Pater Chr. Hendriks dan Pater F. Iven

Sejak saat itu, para pater memulai pekerjaan pastoralnya. Mereka mengadakan karya pastoral rutin berupa Perayaan Ekaristi, ibadat-ibadat, pelajaran agama di paroki maupun pastoran, serta kunjungan berkala ke stasi-stasi di luar kota sesuai jadwal yang ada. Pada awalnya, hanya ada satu kali Ekaristi pada hari Minggu. Meski hanya ada satu kali, gereja tidak penuh karena jumlah umat baru beberapa ratus orang saja dan sebagian besar adalah orang Belanda. Lagi pula, ada sebagian umat yang merasa sudah kerasan mengikuti Ekaristi di Purbayan walaupun tempat tinggalnya secara administratif masuk Paroki Purwosari. Situasi gereja yang penuh sesak hanya dirasakan pada hari-hari besar saja, yaitu pada Hari Raya Natal dan Pekan Suci karena luapan umat dari Purbayan dan kehadiran umat dari stasi-stasi.

Menjelang tahun 1942, terjadilah pergantian para gembala di Paroki Purwosari. Pater Hendriks terpaksa pindah ke tempat lain karena sering sakit akibat fisiknya yang kurang dapat menyesuaikan dengan iklim di Solo. Pater Havenman mendapatkan tugas baru di Bandung. Pater Iven mendapatkan tugas baru di Pati. Kepergian para gembala itu digantikan oleh kehadiran para gembala yang baru yaitu Pater A. Verlaan sebagai pastor kepala yang dibantu oleh Pater A. de Koning dan Pater A. Rijbroek.