Menerjemahkan Nafas Perubahan Konsili Vatikan II

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Tahun 1960-an merupakan tahun perubahan bagi Gereja Katolik. Paus Yohanes XXIII secara tidak terduga memutuskan untuk mengadakan Konsili. Dalam sebuah dialog wawancara dengan Paus mengenai konsili, dikisahkan Paus membuka jendela dan berkata, “Saya ingin membuka jendela dari Gereja sehingga kita bisa melihat keluar dan mereka yang ada di luar bisa melihat ke dalam.” Sikap Paus ini mengindikasikan adanya keinginan untuk berubah dalam Gereja Katolik.

Di tahun-tahun itu, perubahan juga mulai terjadi di Paroki Purwosari. Tahun 1962, Romo Stienen mulai meletakkan dasar pertama pembentukan Dewan Paroki. Dengan adanya Dewan Paroki, partisipasi umat mulai tampak seperti yang dibicarakan dalam Konsili Vatikan II. Struktur dan personalia Dewan Paroki yang pertama itu adalah sebagai berikut:

Ketua                  : Rm. P. Stienen, MSF
Wakil Ketua      : Rm. M. Dotohendro, MSF
Koordinator      : Bp. B. Suparno
Keuangan          : Bp. Y. Supartiman
Penulis               : Bp. C. Sutoro

Mereka berlima disebut Dewan Harian dan dibantu oleh 7 orang anggota. Pada tanggal 3 Juli tahun itu juga, Romo van der Peet pindah dan  tiga hari kemudian Romo Stinenen meninggalkan Purwosari untuk menduduki jabatan baru di Boyolali. Kedudukan Romo Stienen sebagai pastor kepala digantikan oleh Romo de Koning. Bagi umat Purwosari, tahun 1962 dan 1963 merupakan tahun yang sarat dengan kepindahan para gembala. Sekali lagi, Romo Dotohendro harus meninggalkan pelayanan di Purwosari dan digantikan oleh Romo Beyloos. Mulai tahun 1962, pembinaan umat secara intensif dilakukan. Paroki dibagi menjadi 12 wilayah dan setiap wilayah dipimpin oleh seorang pamong. Pada tahun itu, sensus warga dilakukan untuk pertama kali dan tercatat 1.291 orang yang menjadi warga Paroki Purwosari.

Sebuah peristiwa besar yang dapat dicatat pada tahun 1963 adalah perayaan pesta perak imamat Romo de Koning. Perayaan itu diperingati di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo. Dalam kesempatan itu, umat mempersembahkan sebuah sepeda sebagai tanda mata kepada Romo de Koning. Sejak tahun 1964, diresmikanlah stasi Kartasura. Tugas pelayanan di stasi itu dipercayakan pada Romo Fransiscus Paulus Huneker. Mulai saat itu, berkembanglah pelayanan di Kartasura. Pada tanggal 18 Juni 1965, seorang pastor berkebangsaan India, Romo John Chittilappily datang membantu pelayanan di Purwosari. Selain kedatangan pastor baru dari India, pada tanggal 29 Juni 1965, diadakan fancy fair untuk merayakan 25 tahun berdirinya Gereja Purwosari. Laba yang didapatkan dari perayaan tersebut digunakan 60 % untuk persiapan pembangunan Gereja Kartasura dan 40 % untuk Dewan Paroki Purwosari.

Tahun 1962, Romo Stienen mulai meletakkan dasar pertama pembentukan Dewan Paroki. Dengan adanya Dewan Paroki, partisipasi umat mulai tampak seperti yang dibicarakan dalam Konsili Vatikan II

Menjelang bulan September 1965, suasana berubah menjadi mencekam bagi bangsa Indonesia. Saat itu, suasana mencekam menjadi suasana umum di Solo, termasuk bagi orang-orang Katolik. Orang-orang Katolik telah masuk ke dalam daftar orang-orang yang akan dimusnahkan apabila PKI berjaya[1]. Daerah Solo bagian Barat sendiri merupakan basis kekuatan PKI. Pemakaman Jurumartani di kampung Badran dan Lapangan Kartopuran seringkali menjadi basis latihan PKI[2]. Setiap malam suasana sangat mencekam karena hampir setiap malam selalu ada orang berbaris di sekitar Lapangan Kotabarat. Dalam situasi tersebut, kompleks gereja setiap malam dijaga oleh pemuda-pemuda Katolik yang tergabung dalam PMKRI. Selain kompleks gereja, mereka juga menjaga kompleks biara-biara. Penjagaan dilakukan dengan tertib lengkap dengan pengadaan pos-pos dan penghubungnya. Setelah G 30 S berakhir, gerak Gereja kembali menggeliat. Paroki mulai hidup lagi setelah dicekam ketakutan selama beberapa waktu. Pada waktu itu, datanglah Romo H. Djojoputranto pada bulan Februari 1960. Tidak lama kemudian, kota Solo mengalami musibah banjir. Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Bengawan Solo ini merendam separo kota Solo. Untunglah banjir tidak sampai menyentuh bangunan Gereja Purwosari. Banjir itu merendam kota Solo bagian timur. Gereja Purbayan, Susteran OSF dan Bruderan FIC mengalami kerusakan yang cukup parah[3].

Bandjir Solo tahun 1966

Sejak tahun 1966 itu, ada banyak romo yang datang dan pergi. Tahun 1966, Romo Projosuto pindah ke Yogyakarta dan digantikan oleh Romo Jacobs yang menduduki jabatan sebagai pastor kepala. Struktur Dewan Paroki pun diubah pada tahun 1966 sebagai berikut:

Ketua
Sekretaris
Keuangan
Seksi-seksi, terdiri atas 7 bidang: Rumah tangga; Sosial; Antar Paroki; Kepemudaan; Ibadat; Usaha; Katekis
Koordinator
Dewan Kehormatan

Dalam menunaikan tugasnya, Dewan Paroki dibantu para pamong, Dewan Wilayah, serta pengurus lembaga dan organisasi yang ada. Untuk keperluan-keperluan tertentu, Dewan Paroki juga dibantu oleh panitia khusus. Kegiatan yang bersifat kegerejaan yang saat itu dilakukan antara lain adalah penyambutan Uskup Agung, penerimaan komuni pertama atau sakramen penguatan, perayaan pesta perak romo yang berkarya, perayaan misa perdana, perayaan pergantian romo, pengedaran amplop persembahan, persiapan Natal dan Paska, serta fancy fair sebagai peringatan misi. Ada juga kegiatan yang bersifat sosial antara lain penyelenggaraan pertunjukan hiburan serta pengumpulan pakaian pantas pakai dan makanan.

Romo Paroki dan Keluarga Djojomustopo

Tanggal 29 Januari 1968, Romo Djojoputranto pindah ke Paroki Atmodirono Semarang dan Romo Vermeulen mendapat tugas baru di Pati. Kedua imam ini digantikan oleh Romo Y. Hadiwiyono, Romo Q. van den Bosch, dan Romo Th. Rijkuiter. Tanggal 1 Juli 1969, Romo Hadiwiyono pindah ke Baturetno dan ketiga romo yang ada di Purwosari juga pindah mengemban tugas baru. Tugas pelayanan pastor kepala kemudian dipegang oleh Romo H. Beyloos dan dibantu Romo S. Dirgono Martowinoto.

Bulan September 1969, terjadi lagi pembaharuan struktur Dewan Paroki. Saat itu, Dewan Paroki menyatakan diri demisioner karena pergantian romo paroki. Dalam situasi itu, ditunjuklah lima orang formatur untuk membentuk Dewan Paroki baru. Pada sidang pleno tanggal 14 September 1969, terbentuklah struktur Dewan Paroki baru sebagai berikut:

Ketua Umum                                                  Ketua I                                                          Ketua II

Sekretaris I                                                                                                                             Sekretaris II

Bendahara I                                                                                                                            Bendahara II

Yang perlu dicatat adalah pada saat itu, ketua umum tidak dijabat oleh pastor paroki, tetapi seorang awam, yaitu Bp. AK. Djojomustopo.

Tahun 1970, Romo FX. Martowirjono datang membantu meski hanya sebentar di Purwosari. Romo Dirgono kemudian juga pindah dan digantikan oleh Romo Hendrowarsito. Romo Hendrowarsito diangkat sebagai pastor kepala dan Romo Beyloos diangkat sebagai pastor pembantu. Romo Hendrowarsito kemudian pindah dan digantikan lagi oleh Romo Dirgono. Romo Dirgono sebagai pastor pembantu melayani umat Purwosari sampai tahun 1975, sedangkan jabatan pastor kepala dipegang oleh Romo Beyloos.

Dalam suasana datang dan pergi itu, ada beberapa hal yang kiranya dapat dicatat. Konsili Vatikan II membawa perubahan fisik di Purwosari. Konsili yang menekankan ekklesiologi communio[4] itu membawa pengaruh dipindahnya meja altar ke depan. Peristiwa ini terjadi tahun 1968. Altar tidak lagi menempel di bawah tabernakel, tetapi lebih dekat kepada umat. Pemindahan meja altar ini disertai dengan harapan agar umat tidak lagi hanya melihat apa yang dilakukan imam, tetapi umat pun dapat menghayati perayaan perjamuan. Selain pemindahan altar Romo Jacobs sebagai pastor kepala mulai membina umat secara intensif[5].

Posisi Altar sesudah Konsili

Gerak paroki yang patut dicatat lainnya adalah mulai dirintisnya paroki yang mandiri. Usaha ini ditempuh oleh Romo Hendrowarsito pada tahun 1971. Pada tanggal 31 Mei 1971, para imam dan utusan dari paroki se-eks karesidenan Surakarta melangsungkan pembicaraan mengenai swasembada umat paroki. Romo Hendrowarsito mengadakan persiapan untuk membangkitkan kesadaran dalam usaha swasembada umat paroki. Sosialisasi gagasan swasembada umat dilakukan dalam rekoleksi pada tanggal 13 Juni 1971. Rekoleksi itu juga digunakan untuk meninjau kembali struktur dan personalia Dewan Paroki. Romo Hendrowarsito beserta enam formatur kemudian membahas kembali pembaharuan Dewan Paroki. Adapun strukturnya adalah sebagai berikut:

Dewan Pertimbangan : 
Terdiri para romo paroki dan 3 orang awam

Dewan Paroki :
Ketua Umum
Ketua I     : Urusan Kesejahteraan
Ketua II   : Urusan Kegerejaan
Ketua III : Urusan Kepemudaan
Ketua IV  : Urusan Kewanitaan

Para ketua ini didampingi oleh sekretaris umum, sekretaris I, II, III, dan IV.

Sekretariat :
untuk Dewan Paroki dan untuk Paroki

Komisaris :
Komisariat I     : Wilayah Utara Barat
Komisariat II   : Wilayah Utara Timur
Komisariat III  : Wilayah Selatan Barat
Komisariat IV  : Wilayah Selatan Timur

Dewan Paroki baru mulai berfungsi pada tanggal 5 Juli 1971. Adapun rencana kerja yang dibuat antara lain adalah 1) Mengumpulkan modal dari umat dalam bentuk tabungan berjangka; 2) Memakai modal tersebut untuk simpan pinjam, pasar murah, dan peternakan; serta 3) Mengajak umat ikut serta mengurus langsung keperluan Gereja, mulai dari upacara, kebersihan dan hiasan gereja sampai keuangan rutin gereja, termasuk kebutuhan hidup para pastor.

Ada peristiwa pada tahun 1971 yang kiranya patut dicatat. Pada tanggal 9 Januari 1971, Gereja Santa Maria Kartasura diberkati oleh Kardinal Yustinus Darmojuwono, Uskup Agung Semarang. Kartasura merupakan salah satu stasi yang dilayani Paroki Purwosari sejak tahun 1964. Berdirinya Paroki Kartasura diawali dengan pembelian tanah untuk pembangunan gereja pada tahun 1967. Pembentukan panitia pembangunan gereja dimulai pada tanggal 1 Desember 1969 dan peletakan batu pertama dilakukan tanggal 17 Maret 1970. Pembangunan gereja kurang lebih memakan waktu 6 bulan dan diselesaikan pada awal bulan Oktober 1970.

Tahun 1972, untuk semakin mengoptimalkan pelayanan, Dewan Paroki Purwosari mengadakan retret di Sangkalputung pada tanggal 12-15 Februari 1972 dan dilanjutkan dengan musyawarah Pekan Pastoral II pada tanggal 16 Februari 1972. Kedatangan Romo P.C. Joedodiharjo pada tanggal 30 April 1972 membuat gerak pembinaan umat semakin berkembang. Romo Joedodiharjo memprakarsai Misa Wilayah. Sampai tahun 2000-an, Misa Wilayah terus berjalan dan digunakan sebagai ajang untuk rembugan bersama antara romo paroki dan umat di wilayah.

Catatan penting tahun 1970-an: pemberkatan Gereja Santa Maria Kartasura oleh Kardinal Yustinus Darmojuwono pada tanggal 9 Januari 1971

Awal tahun 1973, struktur Dewan Paroki kembali diubah  karena Dewan Paroki merasa membutuhkan lebih banyak tenaga muda. Tanggal 15 Januari 1973, diadakanlah rekoleksi yang dihadiri oleh 77 orang dan menghasilkan susunan Dewan Paroki sebagai berikut:

Ketua Koordinator
Ketua I / So ek                                              Ketua III / Pemuda
Ketua II / Lturgi                                           Ketua IV / Kewanitaan
Sekretaris I                                                     Sekretaris II
Bendahara                                                      Bendahara II

Komisaris-komisaris untuk beberapa wilayah: Utara Barat; Selatan Barat; Utara Timur; Selatan Timur

Pertemuan dengan Uskup

Romo Beyloos sebagai pastor paroki berharap agar Dewan Paroki benar-benar dapat mengarahkan kegiatan dan perkembangan umat paroki. Ia juga berharap agar generasi muda – yang berjumlah besar di Paroki Purwosari – semakin meningkatkan peranannya dalam Dewan Paroki maupun Dewan Wilayah serta meminta pengurus wilayah dan umat menanggapi usaha yang dilakukan dengan baik dan seimbang.

Dewan Paroki baru langsung disibukkan dengan kegiatan Pekan Pastoral III di Klaten tanggal 4-5 Februari 1973 yang mengambil tema “Menumbuhkan Umat Katolik (Gereja) yang Berdikari dan Dewasa sehingga Mampu Berswasembada serta Bersikap Terbuka terhadap Lingkungan Masyarakat Sekitarnya.” Prinsip Gereja yang berdikari ini dibicarakan lebih lanjut dalam Lokakarya Anggaran Belanja Paroki se-Keuskupan Agung Semarang yang diselenggarakan tanggal 19-21 Agustus 1974 di Sangkalputung. Lokakarya itu dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan paroki-paroki agar lebih teliti dalam menghimpun, meningkatkan serta mengelola keuangan dari umat demi pelayanan gereja setempat.

Tanggal 8 Mei 1975, kembali diadakan rekoleksi yang dipimpin Romo Suryaprawata untuk memilih anggota Dewan Paroki baru dan menyesuaikan struktur dewan dengan keputusan Pekan Pastoral V yang diadakan di Wedi pada tanggal 8-9 Februari 1975. Pembaruan itu menghasilkan susunan sebagai berikut:

Dewan Harian, yang terdiri dari:

  1. Sesepuh Dewan Sekretaris I            3. Sekretaris 1
  2. Ketua Dewan Bendahara I               4, Bendahara 1

Dewan Inti, yang terdiri dari Dewan Harian dan ditambah:

  1. Wakil Ketua Dewan                           6. Ketua Sie. Sosial Ekonomi
  2. Sekretaris II dan III                           7. Ka. Sie. Organisasi-Kemasyarakatan
  3. Bendahara II dan III                         8. ketua Sie. Pendidikan
  4. Ketua Sie. Liturgi                               9. Ketua Sie. Komunikasi Sosial
  5. Ketua Sie. Pewartaan

Dewan Pleno, yang terdiri dari Dewan Harian ditambah Dewan Inti dan para staf pengurus Dewan Wilayah

Sejak itu, susunan Dewan Paroki kurang lebih tidak mengalami perkembangan yang berarti. Kepengurusan Dewan Paroki mengalami pasang surut serta penambahan pengurangan di sana-sini untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sampai sekarang, Dewan Paroki masih berperan dalam melayani umat di Paroki Purwosari. Gerak Dewan Paroki ini dirumuskan dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki yang dibuat secara berkala sesuai dengan arahan Keuskupan Agung Semarang dengan susunan sebagai berikut:

  1. Dewan Harian yang terdiri dari Ketua (pastor kepala ex officio), Wakil ketua I (pastor pembantu ex officio), Wakil ketua II (awam), Ketua-ketua bidang, Koordinator ketua-ketua wilayah, Sekretaris, dan Bendahara.
  2. Dewan Inti yang terdiri dari Dewan Harian, Ketua-ketua wilayah, Koordinator-koordinator tim kerja, dan Ketua-ketua koordinasi kategorial.
  3. Dewan Pleno yang terdiri dari Dewan Inti, Ketua-ketua lingkungan, Ketua-ketua kelompok kategorial, Wakil-wakil organisasi, biara, karya pastoral khusus, dan Tokoh-tokoh.

Sampai tahun 2011, ada 5 bidang yang ditangani dalam tata penggembalaan, yaitu Pewartaan, Liturgi, Pelayanan, Paguyuban, dan Sarana Prasarana. Mulai tahun 2012, bidang pelayanan berubah menjadi 6 macam, yaitu Pewartaan, Liturgi, Pelayanan, Paguyuban, Sarana Prasarana, serta Penelitian dan Pengembangan. Satu peristiwa yang patut dicatat pada periode ini adalah pemilihan Ketua III (Awam) Dewan Paroki secara langsung. Pemilihan secara langsung ini melibatkan seluruh umat yang memilih bakal calon Ketua III (Awam) Dewan Paroki. Pemilihan cara ini menjadi catatan tersendiri dalam perkembangan pelayanan Dewan Paroki Santo Petrus Purwosari.

[1] Anggota PKI akan menjejerkan orang-orang Katolik di jalan Slamet Riyadi (mulai sebelah barat gereja Purwosari) jika PKI menang dan orang-orang Katolik itu akan dibunuh satu per satu.

[2] Bangunan yang sekarang dipakai untuk bimbingan belajar NEUTRON pada tahun 1964/1965 menjadi markas pemuda PKI.

[3] Kerusakan yang parah itu antara lain mengakibatkan hilangnya arsip-arsip yang dimiliki oleh SD Purbayan. Data-data siswa yang tersimpan sampai tahun 1964 hanyut diterjang banjir. Di Bruderan Purbayan, air meluap setinggi 125 cm di atas lantai; di susteran, tinggi air mencapai 3 meter; di Pasar Kliwon, tinggi air mencapai 3 ½ meter; dan di Pasar Gedhe, tinggi air mencapai 2 ½ meter.

[4] Konsili Vatikan II membawa angin segar bagi liturgi. Perayaan liturgi – yang tadinya seakan-akan menjadi milik imam saja – kembali menjadi perayaan seluruh umat. Umat kembali diajak berperan serta aktif dalam perayaan liturgi. Bahasa Latin yang menjadi bahasa resmi liturgi diganti dengan bahasa setempat agar umat semakin dapat terlibat. Altar pun didekatkan kepada umat.

[5] Romo Jacobs ini sering mengunjungi wilayah untuk hadir dalam kegiatan wilayah. Romo hadir bukan sebagai pengajar dalam pelajaran agama tetapi sebagai nara sumber untuk menjawab permasalahan umat