Melewati Derita Pasca Peperangan

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Romo Adisujono, setelah menyelesaikan pendidikan imamat di Belanda sebagai imam MSF pribumi pertama, berjuang keras melayani Paroki Purwosari yang menanggung kesulitan keuangan yang sangat besar. Ia seringkali menyinggung kesulitan keuangan ini dalam kotbah hari Minggu dan membangkitkan semangat umat untuk mengatasi kesulitan di Paroki Purwosari

Tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom dijatuhkan di Hiroshima. Bom kedua yang dijatuhkan di Nagasaki pada tanggal 9 Augustus. Tanggal 10 Agustus, pemerintah Jepang menyetujui Perjanjian Potsdam dengan syarat bahwa posisi kaisar sebagai penguasa tertinggi tidak akan dilemahkan. Dalam jawabannya, pihak Sekutu meluluskan permintaan Jepang dengan tetap mempertahankan status kaisar sebagai kekuasaan tertinggi yang memerintah di dalam negeri. Jepang menerima pembatasan ini pada tanggal 14 Agustus dan Kaisar Hirohito mendesak rakyatnya untuk menerima keputusan untuk menyerah.

Penyerahan Jepang mengakibatkan dilepasnya daerah-daerah yang kekuasaan di Indonesia. Penguasa militer Jepang mulai mundur dan meninggalkan bangunan-bangunan yang didudukinya. Kebijakan ini pun berpengaruh di Solo. Pastoran Purbayan yang tadinya dikuasai mulai dikosongkan. Setelah kosong, Romo Pusposuparto kembali menempati pastoran itu. Tanggal 25 September 1945, Pater Verlaan dan Pater de Koning yang telah dibebaskan dari kamp interniran di Cimahi kembali menuju pos lama mereka di Purwosari. Namun, situasi saat itu tidak memungkinkan mereka untuk bertugas dengan semestinya karena mereka tidak boleh bergerak bebas. Tanggal 4 Juni 1945, mereka kembali masuk tahanan Polisi Militer di Solo.

Sungguh merupakan anugerah yang besar bagi Paroki Purwosari karena kemudian datang Romo Adisudjono setelah menyelesaikan pendidikan imamat di Belanda. Ia adalah imam MSF pribumi pertama yang datang tepat sebelum Pater Verlaan dan de Koning kembali masuk tahanan. Awalnya, ia tinggal di Purbayan menemani dan membantu Romo Pusposuparto. Namun, ketika Pater Verlaan dan de Koning  masuk tahanan, Romo Adisudjono pindah ke Purwosari. Beban yang ditanggung oleh Romo Adisudjono sangatlah berat karena harus melayani paroki seorang diri dengan kesulitan keuangan yang sangat besar. Ia tidak jarang menyinggung kesulitan keuangan ini dalam kotbah hari Minggu. Ia tak jemu-jemu membangkitkan semangat umat untuk mengatasi kesulitan di Paroki Purwosari.

Tahun 1950, Romo Jacobs datang untuk membantu Romo Adisudjono. Dua tahun kemudian, Romo Henricus Beyloos datang juga untuk melayani umat di Purwosari. Setelah 3 tahun berkarya di Purwosari, Romo Jacobs digantikan Romo N. Lengers. Romo Lengers ini melayani umat di Purwosari sampai tahun 1964, sedangkan Romo Beyloos hadir di Purwosari sampai tahun 1961. Tahun 1951, wilayah Boyolali yang tadinya termasuk wilayah yang dilayani oleh Paroki Purbayan dialihkan kepada Paroki Purwosari. Mulai saat itu, dibentuk pula Pengurus Gereja Papa Miskin di Boyolali[1].

Sebuah peristiwa besar yang kiranya patut dicatat dalam perjalanan Paroki Purwosari pada tahun 1950-an ini adalah perayaan tahbisan imam yang dilaksanakan di Purwosari. Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu, 9 Agustus 1953[2]. Hari itu, Monsinyur Soegijapranata menahbiskan 4 orang Jawa menjadi imam, yaitu Ludovicus Murabi untuk Serikat Yesus serta Emmanuel Hardjawardaja, Augustinus Sumaatmadja dan Aloysius Wahjasudibja sebagai imam diosesan seperti diabadikan tulisan berikut ini:

TAHBISAN IMAM BARU DI JAWA

                 Pada tanggal 9 Agustus, Monsinyur Albertus Soegijapranata S.J., Vikaris Apostolik Semarang, merasa sangat bahagia karena dapat mentahbiskan empat orang Jawa menjadi imam. Salah satu dari mereka adalah Raden Ludovicus Murabi, seorang Jesuit. Imam-imam baru lainnya adalah Emmanuel Susanta Hardjawardaja, Augustinus Sudarminta Sumaatmadja dan Aloysius Santjaka Wahjasudibja.

                Menurut kebiasaannya,  Monsinyur A. Soegijapranata setiap tahun melakukan tahbisan imam di tempat yang berlainan agar dengan demikian seluruh umat secara bergiliran mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan upacara yang sangat meriah dan mengesan itu. Maka demikianlah di Klaten. Tahun lalu, di Magelang, di mana pada tanggal 7 September 1952, dua imam diosesan Joseph Sirdja Harsasusanta dan Nicolaus Sudarma Tjiptaprawata ditahbiskan, yaitu gereja Magelang hanya mempunyai 300 tempat duduk. Maka, dengan susah payah, disulap sehingga mempunyai 1200 tempat duduk lagi. Seluruh upacara berjalan dengan khidmat dan meriah.

Para pembaca budiman yang pernah mengikuti aksi orkestra untuk seminari menengah tentu sudah mengenal prestasi orkes Seminari Menengah. Mereka bernyanyi dengan sangat merdu dan indah dalam seluruh upacara liturgi, dipimpin oleh Pater Fr. Smits van Waesberghe. Resepsi yang diselenggarakan dihadiri oleh banyak orang, juga dari luar kota. Seluruh kota Magelang, baik orang Katolik maupun yang bukan Katolik, ikut memeriahkan acara itu. Padahal Magelang adalah kota di mana 10 orang misionaris ditangkap dan dibunuh di pemakaman umum pada tanggal 1 September 1945.

Dibandingkan dengan tahbisan tahun 1952, upacara di kota Solo pada tahun 1953 itu lebih meriah. Tidak kurang dari 40 imam hadir untuk menumpangkan tangan. Setelah upacara di gereja selesai, diselenggarakanlah jamuan makan menurut adat dan budaya Jawa bagi para imam baru bersama keluarga dan para rohaniwan, kerabat, dan kenalan sebanyak 400 orang. Setelah itu, masih dilanjutkan resepsi untuk umum. Bapak Walikota pun berkenan hadir sampai acara selesai. Sebagai penutup, pemerintah setempat menyediakan perjamuan besar bagi para rohaniwan yang bertempat di balaikota. Di propinsi Limburg yang Katolik itupun belum pernah terjadi hal semacam itu! Lain kali, kami akan menceritakannya lebih lengkap lagi.

Hari penuh syukur dan kegembiraan, empat orang Jawa ditahbiskan menjadi Imam

Hari Minggu, 9 Agustus 1953 menjadi hari kegembiraan besar bagi Vikariat Semarang. Lebih-lebih bagi Vikaris sendiri, Monsinyur A. Soegyapranata, S.J., yang melaksanakan upacara tahbisan imam empat orang asli Jawa di kota kelahirannya sendiri. Dalam majalah kami sebelumnya, kami telah menyinggung peristiwa itu. Kali ini, kami memberi kesempatan kepada seorang saksi mata untuk menceritakan bagaimana jalannya upacara dan perayaan itu.

 Hari Sabtu, 8 Agustus, diadakan sebuah upacara untuk mendahului tahbisan imam, yaitu tahbisan L. Murabi, E. Hardjawardaja dan A. Sumaatmadja sebagai diakon, E. Wijana sebagai subdiakon, S. Tan Kiong Hwat dan G. Utaya sebagai akolit. Semua itu dilakukan oleh Monseigneur A. Soegyapranata di Gereja Santo Antonius Kotabaru, Jogjakarta. Upacara itu dilaksanakan dengan sederhana dan hari itu adalah hari hening dan persiapan.

Hari Minggu, 9 Agustus, pada jam  06.15 pagi, berangkatlah dari Seminari Tinggi Jogjakarta dengan bis besar (Bis Kilat) yang dinaiki para pater dan frater mahasiswa. Keempat calon tertahbis menyusul dalam mobil tersendiri. Ternyata, keadaan mesin bis itu sangat memprihatinkan dan rewel sehingga jarak 60 km antara Jogjakarta dan Surakarta (Solo) memerlukan waktu hampir satu setengah jam. Karena itu, tidak ada lagi waktu untuk melihat-lihat situasi sebelum upacara dimulai. Dengan melihat sepintas, nampak jelas bahwa pastor paroki Purwasari (di lingkungan Solo), Rama Adisudjana MSF, bersama rekan-rekannya telah berhasil menghias halaman, gereja, dan altar untuk memeriahkan upacara. Tepat jam 08.00, Monseigneur dengan cappa magnanya telah sampai di gerbang masuk gereja.  Ia disambut oleh keempat calon tertahbis dan prosesi para pelayan misa. Lagu ”Ecce Sacerdos” dinyanyikan oleh paduan suara gabungan dari Purwosari dan Purbayan, dua paroki di kota Solo. Dengan demikian, dimulailah upacara yang kurang lebih berlangsung selama satu setengah jam.

Yang ditahbiskan menjadi imam adalah Emmanuel Hardjawardaja, Augustinus Sumaatmadja dan Aloysius Wahjasudibja yang ketiganya ditahbiskan sebagai imam diosesan (Wereldhreren) Ludovicus Murabi yang ditahbiskan sebagai imam Serikat Yesus (Jezuiet).

Di antara para hadirin yang hadir, ada empat puluh orang imam. Yang dapat disebut adalah wakil Internuntius, Monsinyur Guido del Mestri. Ia datang secara “in cognito” – mendadak -, tetapi kemudian dikenali saat ia masuk diam-diam dan memilih duduk di bangku belakang. Setelah upacara selesai, ia secara spontan dan ramah mengucapkan selamat berbahagia kepada para neomis dan Monsinyur A. Soegyapranata sendiri. “Alangkah indah tanah ini, alangkah mengagumkan bangsa ini, alangkah agung karya Misi ini!”, itulah seruan ia dengan begitu antusias dan simpatik.

Setelah upacara yang khusuk di gereja itu selesai, acara dilanjutkan dengan pesta. Pesta itu tidak hanya dihadiri oleh beberapa orang keluarga dan kerabat saja. Seluruh umat Katolik di Solo dan sekitarnya pun ikut bergembira. Sejak beberapa bulan yang lalu, dibentuk sebuah panitia dengan Bp. Doerijat sebagai ketua yang dapat mengerahkan segala tenaga yang ada.

Sekitar jam setengah sebelas, berkumpullah para undangan di aula yang telah dihiasi bunga gladiol merah dan ater putih di Sekolah Menengah yang dikelola para bruder dari Maastricht di Keprabon[3]. Di sana telah disiapkan hidangan yang sederhana tetapi lezat dan menyenangkan.

Pada jam 11.30, diselenggarakan resepsi resmi di Hotel Dana. Lebih dari 1500 orang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengucapkan selamat kepada para imam baru. Resepsi itu sekaligus menjadi kesempatan kunjungan resmi Monseigneur ke Solo. Oleh karena itu, ada banyak tamu pejabat resmi yang hadir: Walikota Mohamad Saleh bersama istrinya yang sampai akhir duduk bersama para imam baru. Ada juga Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Siswapranata, Rektor Universitas Islam Indonesia, Mr. K.R.T. Tirtadiningrat dan masih banyak tokoh-tokoh lain di kalangan masyarakat umum di Solo. Dengan sambutan yang berapi-api, Pak Doerijat menerangkan apa artinya seorang imam untuk orang Katolik. Atas nama umat Katolik, ia mengharapkan berkat melimpah dari Tuhan bagi para imam baru dalam mengemban tugas mereka. Kemudian salah satu dari para imam baru memberikan sambutan untuk berterimakasih; dia berbicara dengan ramah, sederhana dan simpatik. Akhirnya, Monsinyur A. Soegyapranata memberi sambutan yang amat fasih dan menyatakan penghargaan dan kegembiraannya atas segala yang ia saksikan pada hari itu sebagai buah hasil kerjasama Kristiani.

Solo boleh merasa bangga atas cara mereka memuliakan Allah dengan upacara tahbisan para imam yang dikaruniakan Allah atas umatnya.

 MULDER, S.J.

Tahun 1957, Romo Adisudjono menulis dalam majalah Missienieuws bulan November-Desember. Tulisan itu mencoba menggambarkan situasi Paroki Purwosari. Ia menuliskan demikian:

Paroki ini didirikan pada tahun 1940, di samping paroki lama pertama yang dilayani oleh para pater Jesuit. Jumlah umat paroki Purwosari di dalam kota ada sekitar 1200 orang. Di stasi-stasi luar kota, seluruhnya ada 300-an orang Katolik. Dalam misa Natal, umat berbondong-bondong dan meluap sehingga kami mendatangkan 500 kursi sebagai tempat duduk. Masih ada juga sekitar 150 orang yang terpaksa berdiri di luar.

Sejak tahun 1946, Romo Adisudjono ditugaskan di Solo sampai sekarang (artikel ini ditulis tahun 1956-1957-pen) dan didampingi dua pater asli Belanda: H. Beyloos dan N. Lengers.

Di paroki ini ada 5 sekolah bersubsidi dengan jumlah murid sekitar 1000 anak dengan 32 guru. Ada juga sekolah MULO tidak bersubsidi dengan 150 siswa. Setiap tahun, jumlah babtisan meningkat. Pada tahun 1956, ada 270 babtisan. Ada juga 15 pemudi yang masuk biara kongregasi suster; ada 6 pemuda yang belajar di seminari menengah dan sudah ada 2 pemuda yang ditahbiskan menjadi imam. Reksa pastoral yang dilakukan meliputi kotbah, pengakuan dosa, kongregasi Maria, kunjungan ke stasi-stasi di luar kota, ceramah-ceramah untuk siaran radio. Selain itu, banyak waktu dibutuhkan juga untuk mengajar katekismus di sekolah-sekolah dan paroki. Berkat yang dilimpahkan Tuhan atas karya kami membuat kami berterimakasih, juga kepada para penderma di dalam dan luar negeri, baik melalui sumbangan materiil maupun sumbangan doa.

Setelah menjadi pastor paroki selama 13 tahun, pada tahun 1959, Romo Adisudjono pindah dan digantikan oleh Romo P. Stienen. Ia dibantu Romo A. van der Peet. Romo Stienen sangat suka membangun. Ia mengusahakan pembangunan pagar besi di samping dan depan gereja[4] serta beberapa patung besar yang ada di gereja Purwosari: patung Santo Petrus, Santo Paulus, Santo Yosef, dan Santo Theresia[5]. Ia juga menambal dan memperbaiki langit-langit bangunan yang masih terbuat dari tripleks. Romo van der Peet pun tidak kalah aktif dalam menggembalakan umat. Mulai tahun 1959, ia melayani umat stasi Boyolali dan mengajar di SMPK. Ia melayani umat Boyolali dengan mempersembahkan Ekaristi dua kali sebulan dalam bahasa Jawa. Ekaristi di Boyolali saat itu hanya menggunakan ruang kelas bekas sekolah Malaise Chinezche School[6] karena saat itu gereja sedang dibangun.

Pada tahun 1961, paroki Purwosari diberi lagi seorang gembala yaitu Romo M. Dotohendro. Peristiwa yang patut dicatat dalam perkembangan paroki Purwosari adalah peresmian Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali. Ide pembangunan ini dilontarkan oleh Romo van Beek yang berkarya di Salatiga dan Romo Beyloos pada tahun 1958. Pada tahun itu, dimulai pula pembangunan empat ruang kelas untuk SMP Katolik. Tiga ruangan itu disekat oleh hardboard yang sewaktu-waktu dapat dibuka untuk Ekaristi Mingguan. Satu ruang lagi yang digunakan sebagai sakristi dibatasi dengan tembok. Pembangunan Gereja Boyolali dimulai tahun 1960 dengan biaya gotong-royong umat serta bantuan dari Belanda yang dihimpun oleh Romo van Beek dan Romo ver Laam. Pada tanggal 22 Agustus 1961, Gereja Boyolali diberkati oleh Monsinyur Soegijapranata.

[1] Panitia Penyusun. Buku Kenangan 40 Tahun Gereja Hati tak Bernoda Santa Perawan Maria Paroki Boyolali. Boyolali: Paroki Boyolali 2001. Hal. 15.

[2] Catatan lengkap mengenai peristiwa ini dikisahkan dalam majalah misi Berichten Uit Java (St. Claverbond). 1953. Hal. 161-163. Catatan itu telah diterjemahkan oleh Henricus van Voorst tot Voorst, SJ.

[3] Gedung yang dipakai ini adalah gedung SMA St. Yosef yang dulu berada di gedung yang sekarang dipakai menjadi gedung SMP Bintang Laut. SMA St. Yosef didirikan oleh Br. Bonifacio, FIC. pada tanggal 17 Juli 1951. Pendirian ini dicatatkan dalam akta pada Notaris Tan A Sioe Semarang no. 16 tertanggal 6 Oktober 1954 dan dicatatkan di Pengadilan Negeri Semarang pada tanggal 2 Maret 1961 no. 105. SMA ini menempati gedung bekas H.C.S. (Sekolah Belanda untuk orang-orang Cina).

[4] Foto tahun 1980 memperlihatkan gereja Purwosari masih mempunyai pagar besi yang dibangun Romo Stienen.

[5] Sampai sekarang, dua patung (Petrus dan Paulus) masih terpasang di dalam gereja.

[6] Sekolah ini didirikan oleh umat Katolik Boyolali yang kebanyakan berprofesi sebagai guru atau pendidik. Sekolah ini didirikan pada tahun 1940-an dan menempati rumah Tjondrodipuran Jl. Merbabu 24. Setelah Jepang masuk Indonesia, sekolah ini bubar.