Meletakkan Batu Sendi Gereja Santo Petrus Purwosari Solo

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Gagasan Monsinyur Willekens yang tertuang dalam surat terbuka Majalah Claverbond itu ditindaklanjuti dengan usaha mencari tenaga untuk mengelola gereja dan paroki yang akan didirikan. Permohonan itu diajukan kepada Ordo Serikat Yesus tetapi Serikat Yesus ternyata mengalami kesulitan memenuhi tenaga yang dikehendaki. Monsinyur Willekens pun mencari tenaga di luar Serikat Yesus. Tawaran itu diungkapkan pada Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus yang sejak tahun 1926 telah berkarya di Kalimantan bersama Ordo Kapusin. Tawaran itu disambut baik. Monsinyur Willekens pun mengadakan pembicaraan dengan superior SJ, Pater J. Van Baal, dan superior MSF, Pater A. Elfrink. Usaha untuk mendukung pembangunan gereja baru itu juga muncul di kalangan umat Paroki Purbayan. Setiap Minggu pertama dalam bulan, diadakan kolekte khusus untuk sumbangan pembangunan gereja baru. Fancy fair juga diadakan untuk mengumpulkan dana.

Para pater MSF mulai berdatangan, yaitu Pater H. Van Thiel, Pater A. Elfrink, dan Pater Chr. Hendriks. Mereka untuk sementara menempati rumah milik para pastor Yesuit di Purbayan. Yang selanjutnya dipercaya mengurus persiapan dan pelaksanaan pembangunan Gereja Purwosari adalah Pater Elfrink. Masa persiapan karya baru juga diisi dengan mempelajari bahasa Jawa dan turut aktif membantu para pater Yesuit dalam memimpin Ekaristi dan berbagai ibadat di gereja, kapel susteran dan bruderan, serta stasi-stasi di luar kota. Mereka juga mengajar agama di sekolah-sekolah dan di rumah-rumah penduduk.

Ketika para pater MSF datang di Solo, para pater Yesuit sudah mulai mencari tanah bakal tempat gereja baru. Tanah yang dicari adalah tanah di bagian barat kota Solo. Barangkali pertimbangannya adalah agar umat yang tinggal di bagian barat kota Solo tidak terlalu jauh untuk mengikuti ibadat ke Gereja Purbayan yang berada di sebelah timur. Dengan perantaraan para pater Purbayan, dibelilah sebidang tanah di kampung Gendengan. Tanah itu berada di sebelah timur perempatan Jalan Purwosari (sekarang perempatan itu disebut perempatan Gendengan yang dibentuk dari 3 buah jalan: Jl. Dr. Muwardi, Jl. Dr. Wahidin, dan Jl. Slamet Riyadi). Ketika dibeli, di atas tanah itu masih berdiri villa bernama Hendrik Huize yang menghadap ke selatan. Masih banyak pohon-pohon dan semak yang tumbuh di halaman depannya dan kebun belakangnya masih dipenuhi dengan pohon-pohon kelapa.

                Tanah telah siap, tenaga sudah tersedia. Peletakan batu pertama dilakukan pada hari Jumat, 16 September 1938. Upacara pemberkatan sederhana dimulai pada jam 08.00 pagi. Pemberkatan pembangunan gereja dilakukan oleh Pater C. Verhaar, SJ. yang menjabat sebagai pastor kepala Surakarta didampingi oleh Pater Th. Pusposuparto, SJ. di sebelah kiri dan Pater Chr. Hendriks, MSF di sebelah kanan. Upacara itu dihadiri oleh banyak undangan, tamu, dan umat. Di antara yang hadir, tampak Pater Superior SJ, Pater Superior MSF, Gubernur Orie, dan Bp. I.J. Kasimo.

                Dalam upacara peletakan batu pertama itu, dilakukan penandatanganan prasasti berturut-turut oleh Gubernur, Pater Verhaar, SJ. dan Pater Hendriks, MSF. Prasasti itu kemudian dimasukkan dalam tabung timah bersama 3 keping mata uang logam. Mata uang logam itu adalah mata uang logam ½ sen yang melambangkan umat yang tergolong miskin, mata uang 1 sen yang melambangkan umat yang kecukupan, dan mata uang 1 picis (10 sen) yang melambangkan umat yang kaya. Harapannya adalah semoga Gereja ini menjadi rumah Allah yang terbuka bagi siapa saja dan menjadi ramah bagi banyak orang baik yang miskin maupun yang kaya. Setelah itu, tabung timah itu ditutup dan dimasukkan ke dalam pondamen, diplester oleh Pater Verhaar, diperciki dengan air suci, dan akhirnya ditindih dengan batu gandengan bertuliskan ALPHA dan OMEGA. Seluruh pondamen kemudian diperciki dengan air suci. Upacara itu menutup acara peletakan batu pertama pembangunan Gereja Purwosari.

Gereja St. Petrus Purwosari tahun 1950

Bangunan Gereja Purwosari didesain oleh J. Th. Van Oyen (1893-1944). Ia merupakan salah satu dari kelompok angkatan pertama yang berprofesi menjadi arsitek swasta bersama Thomas Karsten (1884-1945), Charles Wolff Schoemaker (1882-1949), Richard Schoemaker (1886-1942), A.F. Aalbers (1898-1961), C. Citroen (1881-1935), F.J.L. Ghijssels (1882-1947), dan W. Lemei († 1946). J.Th. van Oyen  mulai meniti karier sebagai penggambar di biro Schoemaker. Setahun setelahnya, ia menjadi mitra kerja berkualitas penuh dan diangkat sebagai kepala cabang di Semarang. J. Th van Oyen adalah seorang arsitek ternama yang membangun beberapa kompleks bangunan di Indonesia saat itu. Hasil karyanya yang sempat tercatat dalam sejarah adalah Katedral Randusari Semarang (dibantu konstruktor Kleiverde), Gereja Santa Theresia Jakarta, bangunan pertokoan dan restoran “HELLENDORN” di pojok Jl. Kenari dan Jl. Tunjungan Surabaya, Panti Asuhan Vincentius Puteri di Bidara Cina Jakarta, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran Yogyakarta. Saat arsitek lain diangkat sebagai pengajar di berbagai lembaga pendidikan, J.Th. van Oyen dan beberapa mitra kerja lainnya melanjutkan pekerjaan  sebagai arsitek swasta[1].

Struktur bangunan Gereja Purwosari mirip struktur bangunan Gereja Pugeran yang menganut filosofi rumah adat Jawa. Di rumah Jawa ada pendapa untuk menerima tamu, di Gereja Purwosari ada tempat duduk umat sebagai tamu Allah. Pada bagian paling belakang rumah adat Jawa ada senthong tengah yang dikeramatkan bagi Dewi Sri, di Gereja Purwosari ada altar tempat Allah bersemayam. Di rumah Jawa ada gandhok di sisi rumah, di Gereja ada sakristi yang menjadi tempat persiapan para pelayan Ekaristi. Filosofi Jawa tampaknya sangat diperhitungkan ang arsitek karena bangunan ini akan didirikan di antara tanah-tanah Kasunanan. J Th. Van Oyen memberikan citarasa nusantara pada bangunan kokoh yang dirancangnya. Dengan demikian, terwujudlah bangunan Gereja dengan citarasa sesuai dengan kebudayaan Surakarta yang saat itu masih berstatus Vorstenlanden (tanah kerajaan).

Pembangunan gereja berjalan dengan lancar. Kira-kira pada akhir bulan Mei 1940, bangunan gereja dan pastoran telah diselesaikan. Bangku-bangku gereja telah didatangkan. Mebel dan perabot pastoran telah tersedia. Barang-barang itu kemudian mulai ditata dalam bangunan. Pembangunan itu seluruhnya memakan waktu kira-kira 20 bulan. Setelah semuanya selesai, pemberkatan gereja direncanakan pada hari pesta Santo Petrus dan Paulus, Sabtu, 29 Juni 1940. Tanggal 29 Juni 1940 adalah hari yang sangat membahagiakan bagi segenap umat di Solo. Pada hari itu, menjelang jam 08.00 pagi, halaman gereja sudah penuh sesak. Para tamu, undangan, dan umat dari seluruh penjuru kota Solo berdiri menantikan dimulainya upacara pemberkatan gereja. Tepat jam 08.00, tibalah perarakan yang mengiringi Monsinyur Willekens di muka gereja. Sebagai pendamping Monsinyur Willekens, berdirilah Pater A. Elfrink, MSF di sebelah kiri. Di belakangnya, Pater N. Havenman, MSF mengikuti sambil membawa salib yang diapit oleh dua orang misdinar yang membawa lampu lilin. Akhirnya perarakan itu diakhiri oleh empat orang misdinar yang membawa pedupaan dan air suci. Monsinyur Willekens kemudian memerciki gereja dengan air suci dan memberi nama pelindung “PETRUS” kepada gereja baru itu. Setelah itu, Monsinyur Willekens menyerahkan gereja itu kepada para pengasuhnya yaitu para pater MSF. Pater Havenman pun maju dan mengetuk pintu gereja yang masih tertutup dengan salib yang dibawanya. Pintu terbuka dan prosesi berarak maju memasuki gereja, diikuti para tamu, undangan, dan umat untuk mengikuti Ekaristi.

Meskipun bangunan telah berdiri dan diresmikan, ada sesuatu hal yang masih kurang, yaitu izin pendirian dan kepemilikan bangunan. Pada waktu itu, izin mendirikan bangunan gereja tidak mudah didapatkan karena daerah Surakarta masih merupakan daerah swapraja (daerah istimewa). Izin untuk gereja baru pun segera didapatkan karena daerah Surakarta dipimpin oleh seorang gubernur beragama Katolik yaitu Tuan K.A.J. Orie. Akte untuk tanah dan bangunan gereja yang diberikan berupa sertifikat tanah R.V.O. no. 476 tertanggal 12 Juli 1940. Di dalam akta itu, tertulis beberapa nama, antara lain Pater Th. Pusposuparto, SJ., Bp. F.X. Suparman, dan Bp. G.M. Sri Sarwono.

[1] C.J. van Dullemen. “Charles Prosper Wolff Schoemaker dan arsitektur di Hindia-Belanda”. BULLETIN KNOB Jaargang 104. 2005. nummer 6. Hal. 222.