Bergerak Menjadi Paroki Mandiri

Posted on Posted in Sejarah Gereja

Keinginan untuk menjadi paroki mandiri telah dimulai sejak masa pelayanan Romo Hendrowarsito melayani di Purwosari. Mulai tahun 1970-an, Purwosari telah menjadi paroki dengan jumlah umat yang cukup besar. Jumlah umat yang besar itu membuahkan kemandirian di banyak bidang, antara lain finansial, tenaga, inisiatif dan potensi masyarakat. Pada akhir tahun 1972, tampak bahwa umat sudah menuju kedewasaan yang mantap. Kemantapan itu ditambah dengan pembaharuan Dewan Paroki yang telah dirintis pada tahun 1962. Pengembangan sebagai paroki yang mandiri semakin didukung dengan hasil refleksi pada Pekan Pastoral III di Klaten pada tahun 1973. Tindak lanjut yang dibuat setelah Pekan Pastoral itu adalah diangkatnya para diakon awam (sekarang disebut prodiakon paroki). Peranan diakon awam ini dibuat untuk mengembangkan dan menyuburkan partisipasi umat dalam tugas pelayanan.

Pada tahun 1973, Romo Beyloos merayakan pesta perak imamat. Perayaan dimulai pada tanggal 30 Juni 1973 dengan Ekaristi meriah dan dipuncaki pada tanggal 25 Juli 1973 dengan aubade dan defile pada pagi hari. Sore harinya, dilaksanakan Ekaristi Konselebrasi di Gedung Gelora Manahan. Pada kesempatan itu, Bapak Kardinal Darmojoewono berkenan memberikan sambutan tertulis untuk mengucapkan selamat kepada yubilaris dan kepada umat. Perayaan itu kemudian ditutup dengan standing party yang diadakan tanggal 29 Juli 1973. Penghormatan semacam ini kiranya layak dipersembahkan karena ia telah 16 tahun melayani umat di Purwosari.

Akhir tahun 1973, Romo Joedodiharjo pindah ke Jakarta. Begitu pula Romo Dirgono pada tahun 1974. Kepergian mereka digantikan oleh Romo Tan Thian Sing dan Romo Suryaprawata. Tanggal 1 Maret 1975, Romo Suryaprawata diangkat sebagai pastor kepala menggantikan Romo Beyloos. Kehadiran dua imam baru ini semakin memacu umat untuk hidup dan berkembang. Bersama dengan Dewan Paroki, semua segi dan bidang diteliti dan dievaluasi. Bimbingan dan pembinaan ditingkatkan sehingga umat semakin percaya bahwa Paroki Purwosari telah berswasembada dan berdikari. Tahun 1977, Romo Tan Thiang Sing digantikan oleh Romo Hadisubroto. Romo Hadisubroto hanya bertugas selama setahun karena pada akhir tahun 1978, ia mendapatkan tugas baru di Filipina.

Tahbisan 1979

Pada tahun 1979, Purwosari kembali mendapat kepercayaan untuk menyelengarakan tahbisan imam MSF yang dilakukan pada tanggal 2 Februari 1979. Hari itu, Kardinal Justinus Darmajoewono menahbiskan Fr. A. Tjokroatmojo dan Fr. D. Tomo Wijoyo. Peristiwa ini menjadi istimewa karena Fr. Tjokroatmojo merupakan putra paroki Purwosari. Beberapa hari kemudian, kedua imam itu menempati tugas barunya. Romo Tjokroatmojo bertugas di paroki Kartasura, sedangkan Romo Tomo Wijoyo mengisi kekosongan yang ada di Purwosari karena ditinggalkan Romo Hadisubroto. Ternyata, Romo Tomo Wijoyo hanya bertugas sebentar karena harus pindah pada akhir tahun 1979 dan awal tahun 1980 digantikan oleh Romo Bratasantosa.

Catatan penting tahun 1980-an: pemberkatan gereja Santo Paulus Kleca oleh Kardinal Darmojuwono pada tanggal 25 Maret 1980

Peresmian gereja Kleca

Tahun 1980, satu perkembangan lagi dicatat dalam sejarah paroki Purwosari yaitu pemberkatan gereja Santo Paulus Kleca. Kleca merupakan wilayah di bagian barat kota Solo yang masuk ke wilayah yang dilayani oleh Paroki Purwosari. Gereja Santo Paulus Kleca didirikan di atas tanah seluas 7600 meter persegi. Tanah itu dibeli dengan uang hasil penjualan tanah milik gereja seluas 4000 meter persegi di sebelah selatan ATMI. Proses jual beli ini kemudian dilaporkan ke keuskupan dan keuskupan memberikan bantuan dana. Pemberkatan Gereja Kleca dilakukan pada tanggal 25 Maret 1980. Pada tahun itu juga, Romo Suryaprawata harus meninggalkan Purwosari untuk memangku jabatan baru sebagai rektor Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta. Dalam Ekaristi yang dilakukan tanggal 27 April 1980, ia menyerahkan jabatan kepada Romo P.C. Joedodihardjo. Sampai tahun 1985, ada beberapa imam yang bertugas membantu pelayanan Romo Joedodihardjo. Para imam itu adalah Romo H. Beyloos (sampai wafat); Romo Stephanus Bratasantosa (1980-1981); Romo Th. Sumartaji (1981-1982); Romo Y. Harjosusanto (1982-1983); Romo Ag. Purnomo Sastrowijoyo (1983-1984); Romo H.Y. Harsowijoyo (1984-1986); Romo Theodorus Widagdo (1981-1984).