Berbagai Macam Perbaikan Fisik

Posted on Posted in Sejarah Gereja
Adalah seorang seniman lokal bernama Mas Indradi yang membuat mosaik burung merpati  yang sekarang ada di atas salib altar sebagai simbol Roh Allah yang dulu turun menaungi Yesus dansekarang menaungi seluruh umat Purwosari

Di samping perkembangan jumlah umat, wilayah administratif dan berbagai penataan pengelolaan jemaat, Gereja Santo Petrus Purwosari secara fisik mulai memerlukan berbagai perbaikan. Mulai tahun 1970-an, telah banyak perbaikan fisik yang dilakukan. Romo Suryaprawata membenahi interior gereja. Langit-langit yang terbuat dari tripleks telah diganti dengan langit-langit eternit. Tembok di belakang panti imam yang semula tertutup diberi tambahan lubang-lubang dengan kaca berwarna supaya ruangan tidak terlalu gelap. Saat itu, juga telah tersedia sound system yang sederhana.

Pembaruan fisik juga ditampakkan pada interior gereja. “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” Kata-kata ini tampaknya ingin dipahami secara lain melalui detil desain yang muncul kemudian bangunan Gereja Purwosari. Detil desain ini belum ada sewaktu pertama kali bangunan didirikan karena foto tahun 1953 belum menampakkan perubahan itu. Adalah seorang seniman lokal bernama Mas Indradi (alm.) yang tinggal di Laweyan. Dialah yang membuat mosaik burung merpati yang sekarang ada di atas salib altar. Burung merpati itu menjadi simbol Roh Allah yang dulu turun menaungi Yesus dan sekarang menaungi seluruh umat Purwosari. Selain burung merpati, ia juga membuat mosaik pada tembok bangunan aula yang sekarang telah dirubuhkan.

Keterbukaan umat atas Roh Allah juga disimbolkan dengan lubang-lubang cahaya yang ada pada dinding belakang altar. Desain ini digagas oleh arsitek Y.B. Mangunwijaya, Pr (alm.), imam Praja lulusan Sekolah Teknik Tinggi di Aachen Jerman yang memang selalu memasukkan unsur pembaruan dan nafas Konsili Vatikan II dalam setiap desain bangunan gereja yang dibuatnya. Di Gereja Purwosari, ia menggagas lubang-lubang persegi untuk memasukkan cahaya dan angin dari luar. Lubang-lubang persegi ini tampaknya ingin menyimbolkan keterbukaan umat untuk menerima cahaya rahmat Allah. Perubahan detil pada dinding altar ini dilaksanakan saat masa pelayanan Romo Dirgono. Pada dinding altar, lubang-lubang persegi bagian atas dulu dipasangi kaca persegi berwarna-warni. Setiap lubang diberi dua warna. Selain lubang dengan kaca berwarna, ada empat lubang di bawah yang dipasangi bukaan seperti kaca nako. Lubang ini sebenarnya adalah jalan masuk angin dari luar untuk mendinginkan altar. Namun, lubang ini sekarang tidak berguna karena ditutup keramik yang dipasang pada sebagian dinding altar.

Saat Romo Joedodihardjo berkarya sebagai pastor kepala, peristiwa besar yang dihadapi saat itu adalah pelebaran jalan Dr. Muwardi. Proyek itu menelan biaya yang cukup banyak karena pagar tembok kebun pastoran dan pagar besi halaman gereja harus diundurkan. Berkat bantuan dari para dermawan, pengunduran pagar itu dapat diselesaikan dengan cepat. Selain mengundurkan pagar, jalan masuk yang berada di sebelah barat gereja dipindahkan agak ke utara. Akibat pelebaran jalan itu, sisa halaman yang ada di bagian barat  gereja itu hanya dapat dilewati kendaraan beroda dua.

Pembangunan yang lain adalah pembangunan tembok tinggi dan pintu gerbang yang berada di sebelah timur gereja. Pembangunan tembok dan pintu gerbang ini dimaksudkan untuk mencegah pencurian kendaraan. Bersamaan dengan itu, dibangun pula ruangan khusus untuk Dewan Paroki dan Mudika. Selain itu, pohon-pohon tua yang berada di halaman gereja ditebang dan diganti dengan pohon jenis lain. Halaman yang ditutupi dengan kerikil pun diganti dengan lapisan beton. Tahun 1984, seorang dermawan membuatkan kamar tidur dan kamar makan bagi para imam di sebelah timur. Setelah bangunan itu selesai, para imam berpindah ke timur. Ruangan-ruangan yang tadinya ditempati beralih fungsi untuk keperluan lain, antara lain sebagai kantor sekretariat paroki.

Catatan penting tahun 1990-an: peresmian dan pemberkatan Kapel Santo Yusuf Cemani oleh Romo J. Hadiwikarta, Pr, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 15 September 1990

Tahun 1985, Romo Joedodihardjo digantikan oleh Romo F. Widiantara yang semula bertugas di Temanggung. Romo Widiantara masih melanjutkan perbaikan-perbaikan fisik gereja. Ruangan sakristi dibenahi dengan membuatkan almari khusus untuk pakaian pelayan misa dan merapikan letak kapel beserta penempatannya. Aula gereja diperluas. Bu Welas dibuatkan kamar tidur dan kamar mandi tersendiri yang terpisah dari ruangan lain. Selain itu, interior gereja juga dijadikan lebih semarak. Pada tembok belakang panti imam dibuatkan salib yang tingginya hampir mencapai langit-langit. Salib itu mempunyai korpus yang cukup besar dan terbuat dari fiber-glass. Setelah dipasang, corpus itu menempati tengah-tengah lingkaran kaca berwarna. Meja altar dan mimbar juga diberi hiasan ukiran kayu. Gambar-gambar yang ada adalah ukiran bulir gandum dan buah anggur sebagai lambang Ekaristi kudus, ukiran kunci Santo Petrus, ukiran keempat pengarang Injil: Santo Matius (dilambangkan manusia bersayap), Santo Markus (dilambangkan singa bersayap), Santo Lukas (dilambangkan lembu bersayap), dan Santo Yohanes (dilambangkan rajawali). Tepian meja altar yang dipasang di panti imam itu ditulisi kata-kata pengakuan Thomas dalam huruf Jawa: “Gusti kawula lan Allah kawula” (Yoh 20: 28). Hiasan itu juga ditambah dengan arca Keluarga Kudus yang ditempatkan di bagian timur gereja. Bagian luar gereja juga mendapat perbaikan-perbaikan. Menjelang peringatan pesta emas paroki Purwosari; talang-talang yang keropos diganti, bubungan baru dibuat. Genting penutup atas diganti dengan genting merah. Tembok-tembok yang retak telah diperbaiki. Satu hal yang baru adalah pembuatan “kuncungan”, yaitu lantai yang agak tinggi dan ditutup atap di depan pintu masuk gereja.

Selama berada di Purwosari, Romo Widiantara dibantu oleh Romo Beyloos dan Romo Harsowijoyo. Awal tahun 1986, Romo Harsowijoyo mendapat tugas baru di Yogyakarta dan digantikan oleh Romo St. Cahyo Yosoutomo yang sebelumnya bertugas di Kartasura. Peristiwa besar yang juga patut dicatat dalam masa pelayanan Romo Widiantara adalah pembangunan Kapel Cemani. Rencana pembangunan kapel dimulai sekitar tahun 1986. Saat itu, umat Katolik di Cemani mulai bertambah karena tumbuhnya pemukiman baru di sekitar pabrik PT. Batik Keris dan PT. Dan Liris. Perkembangan umat menuntut tempat yang cukup luas untuk berbagai kegiatan dan menggerakkan pengurus wilayah untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah desa meminta sebidang tanah sebagai lahan bangunan gereja. Permohonan itu disetujui oleh pemerintah desa melalui surat Kepala Desa Banaran tertanggal 13 Desember 1986 dengan nomor 144/407/XII/86 yang menyatakan bahwa pemerintah akan memberikan tanah kas Persil: 18 Kl. III – Luas: 600 m2. Namun, pihak pemerintah dan PT. Dan Liris sedang berusaha merundingkan tukar-menukar tanah kas desa dengan tanah milik PT. Dan Liris. Pembicaraan itu akhirnya menyepakati adanya penataan lokasi bangunan desa dengan sarana yang memadai yaitu sekolah, gedung serba guna, tempat ibadah, dan lainnya. Umat Katolik mendapatkan bagian 200 m2 untuk mendirikan tempat ibadah. Dengan demikian, pembangunan kapel pun dapat dimulai.

Pembangunan berbagai fasilitas umum itu diserahkan kepada pelaksana Bapak Gianto. Peletakan batu pertama kapel dilakukan oleh Romo Widiantara, Bapak Camat Grogol, Bapak Kepala Desa Banaran, Pimpinan PT. Dan Liris, dan Ketua Dewan Wilayah pada tanggal 12 Juni 1988. Pembangunan itu merupakan kerjasama antara masyarakat Desa Banaran dan PT. Dan Liris. Pada bulan September 1988, bangunan-bangunan baru itu diresmikan secara simbolis oleh Gubernur Jawa Tengah, H.M. Ismail. Secara khusus, pada tanggal 15 September 1990, bangunan kapel diresmikan oleh Romo Vikaris Jenderal, Romo J. Hadiwikarta, Pr. dengan mengambil nama pelindung Santo Yusuf. Pemberkatan itu dihadiri oleh umat Katolik Cemani Banaran, para pejabat desa, kecamatan dan kabupaten Sukoharjo. Tidak lama kemudian, kegiatan aktif di kapel mulai dilakukan. Di sana, setiap hari Sabtu sore diadakan misa Minggu. Umat wilayah pun secara bergiliran per lingkungan bertugas dalam peribadatan di kapel.

Setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada bulan Juli 1989, Romo Widiantara dipindahkan ke Boyolali. Mulai saat itu, Romo Cahyo bertugas sebagai pastor kepala. Dalam tugasnya, ia dibantu oleh seorang imam baru, Romo Aloysius Rubidi. Tahun 1991, Romo Rubidi pindah ke Temanggung dan digantikan oleh Romo Constantius Adi Widjaja. Selama Romo Cahyo menjadi pastor paroki, kegiatan umat di paroki terasa hidup. Dalam karyanya di paroki ini, Romo Cahyo merintis pembukaan poliklinik paroki. Tahun 1994, Romo Cahyo mendapatkan tugas baru di paroki Boyolali. Kepergian Romo Cahyo digantikan oleh Romo Yasa Widharta. Satu hal yang kiranya menjadi penting untuk dicatat adalah peristiwa pendaftaran gedung gereja sebagai cagar budaya. Pendaftaran gedung gereja sebagai cagar budaya ini dapat dilihat sebagai keterlibatan paroki untuk memelihara sejarah dan kebudayaan Indonesia. Sejarah bukanlah sesuatu yang menjadi masa lalu saja, tetapi tetap dapat dipelihara dan dipelajari.

Mulai tahun 1996, Romo Yasa meninggalkan Purwosari dan digantikan oleh Romo Joedodiharjo sebagai pejabat sementara pastor kepala. Beberapa saat kemudian, datanglah Romo Fransiskus Xaverius Dwinugraha Sulistya yang diangkat sebagai pastor kepala. Dalam karyanya, ia dibantu oleh Romo Andrianus van der Peet, Romo Fabianus Teddy Kananites Aer, dan Romo Beyloos. Tahun 1996, Romo Beyloos telah memasuki purna karya tetapi memilih untuk tetap tinggal di Purwosari melewatkan masa purna tugasnya. Situasi mengerikan dan penuh kerusuhan di Solo pada bulan Mei 1998 menjadi situasi yang dialami oleh Romo Sulis. Selama pelayanannya, Romo Sulis mengembangkan pelayanannya ke lingkungan sekitar Gereja. Ia mulai memperhatikan para tukang becak yang ada di sekitar Gereja. Hubungan yang dekat ini memberikan situasi yang mendukung kehidupan Gereja.